Berita Pilihan

Cadangan Gas Raksasa di Kaltim: 7 Triliun Kaki Kubik Siapkan Swasembada Energi

admin ·
Cadangan Gas Raksasa di Kaltim: 7 Triliun Kaki Kubik Siapkan Swasembada Energi

Berita Pilihan 21 April 2026 – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengumumkan penemuan dua blok gas raksasa di lepas pantai Kalimantan Timur yang diperkirakan menyumbang total cadangan gas raksasa sebesar 7 triliun kaki kubik. Penemuan ini diharapkan memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor.

Blok pertama, yang dinamakan Blok Geliga, dikelola oleh perusahaan migas asal Italia, ENI, dengan kepemilikan 82 persen, sementara sisanya dimiliki oleh Sinopec. Dari blok ini, estimasi cadangan gas mencapai sekitar 5 triliun kaki kubik (TCF) serta tambahan kondensat senilai 300 juta barel setara minyak. Produksi gas saat ini berada pada kisaran 600–700 MMSCFD, namun target pemerintah adalah meningkatkan produksi menjadi 2.000 MMSCFD pada tahun 2028 dan mencapai 3.000 MMSCFD pada tahun 2030.

Baca juga:

Blok kedua, yang dikenal sebagai Blok Gula, telah menunjukkan cadangan gas sekitar 2 TCF dengan tambahan 75 juta barel kondensat. Kedua blok ini bersama-sama memberikan potensi total cadangan gas raksasa sebesar 7 TCF dan sekitar 375 juta barel kondensat ekuivalen minyak. Produksi gabungan dari kedua blok diperkirakan akan dimulai pada tahun 2028, dengan peningkatan bertahap hingga mencapai 1.000 MMSCFD gas dan 90.000 barel kondensat per hari pada akhir dekade.

Berikut rangkuman data utama dari temuan kedua blok tersebut:

Blok Cadangan Gas (TCF) Kondensat (juta barel) Target Produksi Gas (MMSCFD) Target Produksi Kondensat (bbl/hari)
Geliga 5 300 2.000 (2028) – 3.000 (2030) 90‑100 (2028‑2030)
Gula 2 75 1.000 (2028‑2030) ~90 (2028‑2030)

Lokasi lepas pantai Kaltim, sekitar 12 mil dari daratan, dipilih karena kedekatannya dengan infrastruktur migas yang sudah ada, memudahkan pembangunan fasilitas produksi dan transportasi gas. Sumur Geliga-1 dibor hingga kedalaman lebih dari 5.100 meter di bawah permukaan laut, dengan kedalaman air sekitar 2.000 meter, menandai kemampuan teknis Indonesia dalam eksplorasi laut dalam.

Baca juga:

Pernyataan Bahlil menekankan pentingnya temuan ini dalam konteks geopolitik yang tidak menentu, terutama ketegangan di Timur Tengah dan potensi penutupan Selat Hormuz yang dapat mengganggu pasokan energi global. Dengan memanfaatkan cadangan gas raksasa domestik, Indonesia dapat memperkuat swasembada energi, menurunkan impor minyak mentah, dan menyediakan bahan bakar untuk industri hilirisasi.

Selain meningkatkan ketersediaan gas untuk pembangkit listrik dan industri, produksi kondensat yang signifikan diharapkan menjadi substitusi bagi impor crude oil. Proyeksi produksi kondensat mencapai 150 ribu barel per hari pada tahun 2030, yang dapat menurunkan kebutuhan impor crude hingga 150 ribu barel per hari.

Pengembangan kedua blok ini juga membuka peluang investasi tambahan di sektor infrastruktur gas, termasuk pembangunan jaringan pipa, fasilitas penunjang FPSO (Floating Production Storage and Offloading), dan terminal LNG. Pemerintah telah menyiapkan regulasi yang mempermudah kerja sama dengan perusahaan asing, sekaligus memastikan bahwa nilai tambah tetap berada di dalam negeri.

Baca juga:

Secara keseluruhan, temuan cadangan gas raksasa di Kalimantan Timur menegaskan potensi migas Indonesia yang masih sangat besar, khususnya di Cekungan Kutai. Dengan strategi pengembangan yang terencana, negara dapat meningkatkan kemandirian energi, menstabilkan harga domestik, dan memperkuat posisi tawar dalam pasar energi global.

Keberhasilan eksplorasi ini juga memberikan sinyal positif bagi investor internasional yang mencari peluang di sektor energi berkelanjutan. Pemerintah berkomitmen untuk melanjutkan eksplorasi di wilayah lain, termasuk blok‑blok potensial seperti Masela, guna memperluas basis produksi gas nasional.

Dengan langkah konkrit ini, Indonesia berada pada jalur yang tepat untuk mencapai target energi nasional 2030, dimana produksi gas domestik diharapkan menyentuh angka 900 ribu barel per hari, sekaligus menurunkan ketergantungan pada sumber energi luar negeri.