Berita Pilihan

Terungkap! Pecat Menteri Angkatan Laut di Tengah Blokade Selat Hormuz, Apa Penyebabnya?

admin ·
Terungkap! Pecat Menteri Angkatan Laut di Tengah Blokade Selat Hormuz, Apa Penyebabnya?

Berita Pilihan 24 April 2026 – Pentagon mengumumkan pada Rabu, 22 April 2026, bahwa Menteri Angkatan Laut Amerika Serikat, John Phelan, resmi diberhentikan dari jabatannya. Keputusan ini datang tepat saat Presiden Donald Trump mengintensifkan operasi blokade di Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia. Pengunduran diri Phelan, yang sebelumnya dilaporkan sebagai pengunduran diri sukarela, kini dipastikan sebagai pemecatan yang diatur secara mendadak oleh juru bicara Pentagon, Sean Parnell.

Pernyataan resmi Pentagon menegaskan bahwa pemberhentian Phelan “segera berlaku efektif” dan menyatakan terima kasih atas kontribusinya. Tidak ada alasan terperinci yang diberikan, namun sejumlah laporan internal mengungkapkan ketegangan yang mendalam antara Phelan dan pejabat senior militer, terutama Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Konflik utama berpusat pada visi pembangunan armada “Golden Fleet” yang didukung penuh Presiden Trump.

Baca juga:

Visi “Golden Fleet” mencakup pembangunan serangkaian kapal perang berukuran besar yang dinamai sesuai presiden, sebuah proyek yang menelan biaya miliaran dolar. Phelan, seorang pengusaha dan donor utama kampanye Trump, menjadi tokoh kunci dalam merancang program ini. Namun, Hegseth serta Wakil Menteri Pertahanan Stephen Feinberg menilai proyek tersebut tidak sejalan dengan strategi Pentagon yang kini mengutamakan kapal tak berawak yang lebih murah dan efisien. Menurut sumber dalam lingkaran militer, ketidaksepakatan tersebut memperburuk hubungan kerja Phelan dengan atasan-atasannya.

Selain perselisihan kebijakan, Phelan juga dikabarkan mengalami tekanan terkait manajemen program pembangunan kapal. Beberapa pejabat senior melaporkan bahwa Phelan kehilangan kontrol atas beberapa departemen penting, termasuk program kapal selam yang kini berada di bawah koordinasi langsung Feinberg. Ketidakmampuan untuk memenuhi target pembangunan dalam waktu singkat menjadi faktor tambahan yang mempercepat keputusan pemecatan.

Penggantinya, Hung Cao, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Angkatan Laut sejak Oktober 2025, akan mengambil alih posisi secara interim. Cao, seorang veteran dengan 25 tahun pengalaman di Angkatan Laut, pernah mencalonkan diri sebagai senator di Virginia pada 2024 dengan dukungan kuat dari basis MAGA, meski kalah dari senator Demokrat Tim Kaine. Pengangkatannya dipandang sebagai upaya Pentagon untuk menempatkan figur yang lebih bersinergi dengan kebijakan pertahanan Trump.

Baca juga:

Keputusan ini juga terjadi di tengah gelombang perombakan besar-besaran di Pentagon. Beberapa pekan sebelumnya, Menteri Pertahanan Pete Hegseth mencopot Kepala Staf Angkatan Darat Randy George, serta dua jenderal senior lainnya. Pemecatan ini menandakan perubahan struktural yang signifikan, terutama dalam menghadapi perang yang sedang berlangsung melawan Iran sejak akhir Februari 2026.

Blokade di Selat Hormuz memperparah situasi geopolitik. Amerika Serikat telah menurunkan setidaknya 29 kapal untuk memantau dan mengarahkan kembali kapal-kapal tanker Iran yang beroperasi di wilayah tersebut. Operasi ini mencakup penyitaan tiga supertanker—Deep Sea, Sevin, dan Dorena—yang masing-masing membawa muatan minyak mentah dalam jumlah besar. Penangkapan ini menegaskan bahwa AS berusaha menekan Iran secara ekonomi sambil memperkuat kehadiran maritimnya.

Para analis politik menilai bahwa pemecatan Phelan bukan sekadar tindakan administratif, melainkan sinyal kuat bahwa Presiden Trump menuntut hasil yang lebih cepat dalam proyek-proyek militer besar. Andrew Peek, mantan Wakil Asisten Menteri Luar Negeri, menyatakan bahwa Phelan menjadi “kambing hitam” atas kegagalan mencapai target pembangunan armada. Ia menambahkan bahwa 70% keputusan pemecatan dipengaruhi oleh kebutuhan politik untuk menempatkan sosok yang lebih dapat dipercaya oleh basis pendukung Trump.

Baca juga:

Secara keseluruhan, peristiwa ini menyoroti dinamika internal Pentagon yang semakin kompleks di tengah konflik Iran‑Israel‑AS. Sementara operasi blokade di Selat Hormuz terus berlanjut, fokus utama Pentagon tampak beralih pada restrukturisasi kepemimpinan dan penyelarasan kebijakan dengan agenda Presiden. Apa yang akan terjadi selanjutnya dengan kebijakan maritim AS dan proyek “Golden Fleet” masih menjadi pertanyaan besar bagi komunitas internasional.