Ruud Gullit Kritis Kebijakan Imigrasi, Soroti Kebanggaan Penggemar Kanada, dan Warisan Legendaris di AC Milan
Berita Pilihan 15 Juni 2026 – Legenda sepak bola Belanda, Ruud Gullit, kembali menjadi sorotan publik setelah mengeluarkan pernyataan tajam mengenai kebijakan imigrasi sekaligus menyoroti dukungan hangat penggemar Kanada terhadap tim nasional mereka. Gullit, yang kini berusia 61 tahun, tidak hanya dikenal atas prestasinya di lapangan bersama PSV, AC Milan, dan tim nasional Belanda, tetapi juga sebagai figur publik yang sering menyuarakan isu sosial dan budaya.
Dalam sebuah wawancara di BeIN Sports pada Jumat malam, Gullit menanggapi pertandingan Kanada melawan Bosnia dan Herzegovina yang berakhir imbang 1-1. Ia menekankan betapa mengesankannya melihat lebih dari setengah skuad Kanada berkulit hitam, menandakan keberagaman yang menjadi kekuatan tim. “Semua orang telah melihat bahwa lebih dari separuh tim Kanada berkulit hitam. Mereka semua datang ke Kanada karena berbagai alasan,” ujar Gullit. “Saya melihat para penggemar Kanada benar‑benar merangkul tim ini, sebagaimana kami di Belanda pernah melakukannya. Ini mengingatkan saya pada konflik yang terjadi di beberapa negara terkait migran, yang sangat menyakitkan bagi saya sebagai orang Belanda yang selalu dipandang berbeda karena warna kulit saya,” tambahnya.
Gullit menegaskan rasa bangganya ketika melihat Kanada, negara yang secara historis merupakan tujuan imigran, menampilkan solidaritas dan kebanggaan nasional yang inklusif. “Saya merasa senang dan bahagia bahwa mereka berhasil meraih satu poin, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana mereka menyambut para migran. Ini adalah contoh yang harus diikuti oleh banyak negara,” katanya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya perdebatan politik di Eropa tentang pembatasan imigrasi. Gullit mengungkapkan rasa jijik terhadap orang‑orang yang berusaha mengurangi aliran migran, menyoroti bahwa kebijakan semacam itu tidak hanya menyinggung nilai kemanusiaan, tetapi juga mengabaikan kontribusi positif yang dibawa oleh para imigran ke dalam masyarakat.
Selain komentar sosialnya, Gullit juga menjadi bagian penting dalam perayaan sejarah AC Milan. Pada 12 Juni 2026, pameran “Memories of the Devil” dibuka di Subbuteoland, menampilkan koleksi memorabilia legendaris klub, termasuk jersey Gullit tahun 1987 ketika ia meraih Ballon d’Or. Pameran tersebut menampilkan seragam para pemain berprestasi seperti Paolo Maldini, Franco Baresi, Marco van Basten, dan tentu saja Gullit, yang menjadi simbol era keemasan Milan pada akhir 1980-an. Acara ini tidak hanya menampilkan barang bersejarah, tetapi juga menyumbangkan sebagian hasil penjualan kepada Rumah Sakit Anak Reggio Emilia.
Gullit, yang pernah menjadi kapten tim nasional Belanda pada Piala Dunia 1990, mengingat kembali masa kejayaannya di Milan. Ia menekankan pentingnya nilai sportivitas dan keberagaman dalam membentuk identitas klub. “Ketika kami bermain di San Siro, kami tidak hanya mewakili klub, tetapi juga mencerminkan keragaman budaya yang ada di Italia dan Eropa,” kata Gullit dalam sambutan pembukaan pameran.
Reaksi publik terhadap pernyataan Gullit cukup beragam. Di media sosial, banyak yang memuji keberaniannya mengkritik kebijakan imigrasi, sementara sebagian pihak menilai bahwa seorang mantan pemain harus tetap fokus pada urusan sepak bola. Namun, Gullit menegaskan bahwa peran seorang tokoh publik tidak terlepas dari tanggung jawab sosial. “Sepak bola mengajarkan kita tentang kerja sama, toleransi, dan rasa hormat. Nilai‑nilai itu harus diterapkan di luar lapangan,” ujarnya.
Dalam konteks Piala Dunia 2026, Gullit juga menyinggung pentingnya pemain muda seperti Memphis Depay yang kembali bersinar setelah masa sulit di Corinthians. Gullit mengingatkan bahwa kontribusi pemain di turnamen besar tetap menjadi tolok ukur utama, meski ia menilai bahwa Depay masih perlu memberikan kontribusi yang lebih konsisten di pertandingan penting.
Secara keseluruhan, pernyataan Gullit mencerminkan pandangan seorang veteran sepak bola yang tidak hanya mengingat masa lalu gemilangnya, tetapi juga mengaitkannya dengan isu‑isu kontemporer. Dari dukungan terhadap penggemar Kanada yang inklusif, hingga kritik tajam terhadap kebijakan imigrasi yang eksklusif, Gullit menegaskan bahwa sepak bola dapat menjadi jembatan budaya yang kuat bila dijalankan dengan semangat kebersamaan.
Kesimpulannya, Ruud Gullit tetap menjadi suara yang relevan dalam dunia sepak bola dan masyarakat luas. Pendekatannya yang menggabungkan nostalgia akan era keemasan AC Milan dengan kepedulian sosial menunjukkan bahwa warisan seorang legenda tidak berhenti pada trofi, melainkan meluas ke upaya menciptakan dunia yang lebih inklusif dan berkeadilan.