Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius: Gejala, Penularan, dan Risiko Kematian
Berita Pilihan 09 Mei 2026 – Wabah Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius telah menjadi perhatian internasional setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melakukan investigasi terhadap kematian tiga penumpang pada awal Mei 2026. Kapal yang membawa 149 penumpang dan kru dari 23 negara itu dilaporkan sedang beroperasi di sekitar perairan Tanjung Verde, Afrika Barat, ketika sejumlah penumpang mulai mengalami gejala penyakit serius.
WHO mengonfirmasi wabah Hantavirus varian Andes yang menyebabkan tiga penumpang kapal MV Hondius meninggal dunia sejak April 2026. Pemerintah Argentina melakukan investigasi sumber penularan dan pelacakan rute perjalanan penumpang di wilayah Amerika Selatan yang terinfeksi.
Hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa hewan pengerat, terutama tikus. Penularan pada manusia biasanya terjadi saat seseorang menghirup partikel debu yang tercemar urine, feses, atau air liur hewan tersebut. Di kawasan Amerika, virus ini dapat memicu Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS), yaitu penyakit gangguan pernapasan berat dengan tingkat kematian mencapai 50 persen.
Sementara di Eropa dan Asia, Hantavirus lebih sering menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dengan tingkat kematian sekitar 10 persen. WHO menegaskan risiko publik tetap rendah, namun seluruh penumpang diwajibkan isolasi 45 hari sementara investigasi mencari sumber kontaminasi di dalam kapal.
Kasus kematian akibat wabah ini mulai tercatat sejak 11 April 2026. Tiga korban terdiri dari pasangan suami istri asal Belanda dan seorang perempuan asal Jerman, dengan korban pria meninggal di atas kapal sementara istrinya mengalami gejala saat penerbangan pulang lalu wafat setelah tiba di rumah sakit Johannesburg, Afrika Selatan.
Beberapa negara juga telah melakukan pemantauan terhadap penumpang dan kontak erat, termasuk Belanda, Inggris, Kanada, Singapura, Swiss, Prancis, Afrika Selatan, dan Amerika Serikat. Di Singapura, dua pria berusia 60-an menjalani isolasi mandiri dan tes hantavirus. Salah satunya mengalami pilek ringan, sementara satu lainnya tidak menunjukkan gejala.
Sedangkan di Amerika Serikat, sejumlah warga di negara bagian Virginia, Texas, Georgia, Arizona, dan California turut dipantau otoritas kesehatan meski sejauh ini belum menunjukkan gejala serius. WHO bersama otoritas kesehatan lainnya kini melakukan pelacakan kontak erat terhadap para pasien untuk membatasi potensi penularan yang lebih luas.
Kapal MV Hondius diarahkan ke Kepulauan Canary untuk memulangkan penumpang yang sehat ke negara masing-masing. Namun, peristiwa ini memicu pertanyaan besar: Seberapa bahaya virus ini dan bagaimana ia bisa menyebar di kapal pesiar? Kasus di kapal dikaitkan dengan virus Andes yang endemik di Argentina.
WHO menduga pasangan Belanda yang meninggal kemungkinan terinfeksi saat melakukan perjalanan pengamatan burung di Argentina, Chile, dan Uruguay sebelum menaiki kapal pada 1 April 2026. Kini pemerintah Argentina tengah menelusuri rute perjalanan pasangan tersebut dan melakukan penangkapan serta pengujian tikus di sejumlah lokasi yang diduga menjadi sumber penularan.
Otoritas kesehatan global memantau ketat penumpang yang telah turun di berbagai negara guna mencegah penyebaran virus lebih luas. Suara.com – Otoritas kesehatan di berbagai negara bergerak cepat melacak dan mengendalikan wabah Hantavirus setelah World Health Organization (WHO) mengonfirmasi lima kasus infeksi yang terkait dengan kapal pesiar MV Hondius.
Kesimpulan, wabah Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius merupakan peristiwa yang serius dan memerlukan perhatian dari otoritas kesehatan global. Penularan virus ini dapat terjadi melalui kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi, dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan atau ginjal yang serius. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemantauan dan pengawasan yang ketat terhadap penumpang dan kontak erat untuk mencegah penyebaran virus lebih luas.