Berita Pilihan

Tamparan Keras Legenda Persebaya: Tendangan Kungfu Fadly Alberto Picu Sanksi Berat PSSI

admin ·
Tamparan Keras Legenda Persebaya: Tendangan Kungfu Fadly Alberto Picu Sanksi Berat PSSI

Berita Pilihan 22 April 2026 – Insiden tendangan kungfu Fadly Alberto pada laga Elite Pro Academy (EPA) U‑20 antara Bhayangkara FC U‑20 melawan Dewa United Banten U‑20 di Stadion Citarum, Semarang, 19 April 2026, kembali menggegerkan dunia sepak bola Indonesia. Aksi brutal tersebut tidak hanya menjerat sang pemain muda dalam ancaman sanksi disiplin, tetapi juga memancing reaksi keras dari legenda Persebaya Surabaya, Jacksen F. Tiago, serta mantan eksekutif PSIS, Yoyok Sukawi.

Dalam pertandingan yang berakhir 2‑1 untuk Dewa United, ketegangan memuncak setelah keputusan wasit yang mengesahkan gol lawan dipertanyakan oleh Bhayangkara. Saat adu mulut masih berlangsung, Fadly Alberto berlari kencang menuju pemain lawan, Rakha Nurkholis, dan melancarkan tendangan berarah ke badan lawan yang menyerupai gerakan kungfu. Rakha terjatuh, keributan meluas, dan video aksi tersebut cepat tersebar di media sosial, memicu protes luas.

Baca juga:

Reaksi pertama datang dari legenda Persebaya, Jacksen Tiago, yang melalui pernyataan resmi menegaskan: “Jangan kotori sepak bola! Kekerasan tidak akan ditoleransi, apalagi pada level usia muda yang seharusnya menjadi pembinaan karakter. Sepak bola harus menjadi contoh sportivitas, bukan ajang perkelahian.” Tiago menambahkan pentingnya investasi pada psikologis dan karakter pemain, bukan hanya pada teknik.

Yoyok Sukawi, mantan CEO PSIS Semarang, juga mengeluarkan komentar via Instagram, menilai tindakan Fadly Alberto tidak dapat diterima. “Pemain Timnas masih muda, masa depannya panjang. Tidak ada pemain profesional yang temperamen, menormalisasi kekerasan justru merusak citra bangsa,” ujarnya sambil mengingat contoh Cristiano Ronaldo yang tetap tenang meski berada di situasi tekanan.

Dalam rangka menanggapi sorotan publik, Fadly Alberto mengirimkan permintaan maaf resmi melalui akun Instagram pribadi dan akun klub. Ia mengakui perbuatan bodohnya, meminta maaf kepada Rakha Nurkholis, tim Dewa United, serta seluruh pihak Bhayangkara FC. Selain itu, ia menyatakan kesiapan menerima sanksi yang ditetapkan PSSI, menegaskan bahwa insiden tersebut menjadi pelajaran penting untuk mengendalikan emosi di lapangan.

Baca juga:

PSSI melalui Sekretaris Jenderal Yunus Nusi menegaskan bahwa laporan insiden telah diterima dan akan diproses secara cepat oleh Komisi Disiplin (Komdis). “Tindakan Fadly tidak dapat ditoleransi. Kami akan memberikan sanksi yang proporsional namun tegas, demi menjaga integritas kompetisi,” tegasnya.

Pengamat sepak bola nasional, Aris Budi Sulistyo, menilai sanksi seumur hidup tidak proporsional mengingat usia dan potensi pemain. Ia mengusulkan skorsing lima tahun atau denda sebagai bentuk edukasi, sekaligus menekankan perlunya pelatihan karakter bagi pelatih dan asisten yang terlibat dalam keributan.

  • Reaksi Legenda: Jacksen Tiago menekankan pentingnya sportivitas.
  • Reaksi Eks Bos: Yoyok Sukawi mengingatkan bahaya normalisasi kekerasan.
  • Permintaan Maaf: Fadly Alberto mengakui kesalahan dan siap menerima sanksi.
  • Langkah PSSI: Komdis akan menindaklanjuti dengan sanksi tegas.
  • Opini Pengamat: Sanksi proporsional diperlukan, bukan hukuman seumur hidup.

Insiden ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak yang terlibat dalam pengembangan bakat muda di Indonesia. Tidak hanya pemain, melainkan pelatih, ofisial, dan manajemen klub harus menanamkan nilai sportivitas sejak dini. Dengan menegakkan disiplin yang konsisten, federasi dapat menghindari terulangnya kejadian serupa dan memastikan generasi penerus mampu mewakili negara dengan kebanggaan.

Baca juga:

Ke depan, fokus utama tetap pada pembangunan karakter pemain muda, peningkatan fasilitas psikologis, dan penegakan aturan yang jelas. Jika semua elemen sepak bola Indonesia bersinergi, insiden tendangan kungfu ini dapat menjadi titik balik positif untuk memperkuat integritas dan profesionalisme dalam kompetisi usia muda.