Berita Pilihan

Revolusi classroom: Dari Larangan Ponsel di Illinois hingga Teknologi Interaktif di India dan Tantangan Kekerasan di Tasmania

admin ·
Revolusi classroom: Dari Larangan Ponsel di Illinois hingga Teknologi Interaktif di India dan Tantangan Kekerasan di Tasmania

Berita Pilihan 03 Juni 2026 – Pendidikan di seluruh dunia sedang mengalami transformasi besar, baik melalui kebijakan pembatasan perangkat digital, inovasi teknologi interaktif, maupun tantangan keamanan di dalam ruang belajar. Tiga perkembangan terbaru menonjol: undang‑undang baru yang melarang penggunaan ponsel di classroom publik Illinois mulai tahun ajaran 2027‑28, peluncuran rangkaian layar interaktif ViewSonic IN05 di India dengan alat AI untuk classroom, serta data terbaru dari Tasmania yang mengungkap paradoks penurunan suspensi siswa namun peningkatan kekerasan terhadap guru.

Di Amerika Serikat, Gubernur JB Pritzker berhasil mengesahkan RUU yang membatasi penggunaan ponsel di semua sekolah negeri dan charter di Illinois. Kebijakan ini memberlakukan larangan total selama jam pelajaran untuk siswa SD dan SMP, sementara SMA hanya diizinkan menggunakan ponsel saat istirahat bila distrik memperbolehkan. Pengecualian diberikan untuk kebutuhan medis, pelajar bahasa Inggris, dan program pendidikan khusus. Meskipun kebijakan ini dianggap sebagai langkah penting untuk mengurangi gangguan digital, ia juga menimbulkan tantangan logistik, seperti kebutuhan penyimpanan ponsel yang memakan biaya. Contohnya, Distrik Sekolah U‑46 di Elgin menghabiskan lebih dari US$170.000 untuk kantong penyimpanan dan basis magnetik tahun lalu.

Baca juga:

Sementara itu, di Asia, perusahaan teknologi ViewSonic meluncurkan seri display interaktif IN05 di India, dilengkapi dengan sistem operasi Android 16, resolusi 4K, dan beragam ukuran layar. Produk ini dirancang khusus untuk mendukung classroom modern dengan fitur AI yang dapat membantu guru menyiapkan materi, mengelola interaksi siswa, dan memantau partisipasi secara real‑time. Dengan integrasi alat kolaboratif berbasis cloud, harapannya para pendidik dapat mengoptimalkan pembelajaran berbasis proyek tanpa mengorbankan fokus siswa.

Di belahan dunia lain, Tasmania menghadapi paradoks yang mengkhawatirkan. Data terbaru Departemen Pendidikan, Anak‑Anak, dan Pemuda (DECYP) menunjukkan penurunan suspensi siswa secara keseluruhan dari 10.330 pada 2024 menjadi 9.601 pada 2025. Penurunan ini terutama dipicu oleh berkurangnya pelanggaran terkait vaping di kalangan siswa kelas 7‑10. Namun, angka suspensi karena kekerasan fisik terhadap guru justru naik dari 274 menjadi 317 dalam periode yang sama. Menteri Pendidikan Jo Palmer menegaskan pentingnya Rencana Aksi Kekerasan di Sekolah, termasuk pelatihan khusus bagi asisten guru dengan pendekatan trauma‑informed.

Baca juga:
Wilayah Indikator 2024 2025
Illinois (AS) Persentase siswa yang memenuhi standar membaca (kelas 3‑8) ~50% Data belum tersedia
Illinois (AS) Persentase lulusan SMA yang lulus ujian matematika <4 % Data belum tersedia
Tasmania (AU) Total suspensi 10.330 9.601
Tasmania (AU) Suspensi karena kekerasan terhadap guru 274 317

Ketiga contoh tersebut menyoroti dilema yang dihadapi pendidik modern: bagaimana menyeimbangkan penggunaan teknologi yang dapat meningkatkan kualitas classroom dengan kebutuhan untuk menjaga konsentrasi, keamanan, dan kesejahteraan emosional siswa. Di Illinois, larangan ponsel dimaksudkan untuk mengurangi multitasking dan meningkatkan retensi informasi melalui metode tradisional seperti menulis tangan. Di India, teknologi interaktif berupaya memodernisasi classroom dengan memberikan alat yang memudahkan kolaborasi tanpa harus mengandalkan ponsel pribadi. Sementara di Tasmania, penurunan suspensi tidak serta merta berarti penurunan kekerasan, melainkan menandakan pergeseran bentuk perilaku yang memerlukan intervensi berbasis data dan pelatihan guru.

Para pembuat kebijakan, pengelola sekolah, dan penyedia teknologi diharapkan dapat belajar dari contoh masing‑masing. Kebijakan pembatasan perangkat harus disertai dukungan infrastruktur yang memadai, sementara inovasi digital harus dirancang dengan prinsip pedagogis yang kuat dan tidak menambah beban gangguan. Pada akhirnya, tujuan bersama tetap sama: menciptakan classroom yang kondusif bagi pembelajaran yang mendalam, inklusif, dan aman bagi semua peserta didik.

Baca juga: