Kapal Tanker Lewati Selat Hormuz dengan Koordinasi Iran, Sementara Jepang Sambut Pengisian Cadangan Minyak dari UEA
Berita Pilihan 23 Mei 2026 – Selat Hormuz kembali menjadi sorotan utama dunia maritim setelah Iran mengumumkan keberhasilan koordinasi untuk mengamankan lintasan kapal, termasuk kapal tanker, dalam 24 jam terakhir. Menurut pernyataan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), sebanyak 31 kapal berhasil melintasi selat pada satu hari, sementara laporan lain menyebutkan 26 kapal yang meliputi tanker minyak, kontainer, dan kapal komersial lainnya.
Koordinasi tersebut mencakup pengaturan jalur aman, pengawasan radar, dan kesiapan pasukan untuk menanggapi potensi ancaman. IRGC menegaskan bahwa meski Amerika Serikat berusaha menutup akses melalui blokade laut, mereka tetap berkomitmen menyediakan jalur yang jelas bagi perdagangan global. Upaya ini sejalan dengan kebijakan Iran yang memperketat kontrol atas Selat Hormuz sejak akhir Februari, terutama terhadap kapal yang berafiliasi dengan Israel dan Amerika Serikat.
Di sisi lain, Amerika Serikat dan sekutu NATO telah menyiapkan “Rencana B” untuk membuka kembali selat apabila Iran menolak melonggarkan kontrolnya. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menekankan pentingnya memiliki opsi alternatif, termasuk kemungkinan penerapan pungutan tarif permanen bagi kapal yang melintas. Iran dilaporkan mengusulkan biaya sekitar 2 juta dolar per kapal tanker setelah konflik berakhir, sebuah usulan yang ditolak keras oleh Washington.
Sementara ketegangan di wilayah Teluk Persia berlanjut, Jepang melaksanakan langkah strategis lain dalam sektor energi. Pada Jumat, 22 Mei 2026, sebuah kapal tanker minyak mentah dari Uni Emirat Arab (UEA) tiba di pangkalan Eneos Kiire, Prefektur Kagoshima, untuk mengisi kembali cadangan minyak strategis yang dibagikan bersama antara Jepang, UEA, Arab Saudi, dan Kuwait. Pengisian ulang ini merupakan pertama kalinya sejak Jepang mulai mengakses cadangan minyaknya sebagai respons terhadap situasi yang memburuk di Timur Tengah.
Kementerian Perindustrian Jepang menyatakan bahwa cadangan minyak yang cukup untuk konsumsi enam hari kini berkurang menjadi satu hari, menandakan urgensi penambahan pasokan. Pemerintah belum menentukan kapan cadangan tersebut akan dilepaskan kembali, namun menegaskan bahwa tambahan minyak untuk konsumsi satu hari sedang dalam proses pengadaan.
- 31 kapal (IRGC laporan) melintasi Selat Hormuz dalam 24 jam.
- 26 kapal (laporan lain) melintasi selat dalam periode yang sama.
- Kapal tanker minyak UEA tiba di Jepang untuk mengisi cadangan strategis.
- AS menyiapkan “Rencana B” bila Iran menolak membuka selat.
- Iran mengusulkan pungutan 2 juta dolar per kapal tanker.
Data pasar energi menunjukkan dampak langsung dari dinamika geopolitik ini. Harga Brent untuk pengiriman Juli turun 2,13% menjadi US$109,71 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) untuk Juni turun 1,16% menjadi US$107,40 per barel. Penurunan ini dipicu oleh penundaan rencana serangan militer AS terhadap Iran, yang diumumkan oleh Presiden Donald Trump setelah intervensi Qatar, Arab Saudi, dan UEA.
Ketegangan antara Iran dan sekutu Barat tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi kebijakan maritim dan pasar energi global. Sementara Iran menegaskan haknya untuk mengontrol lalu lintas di Selat Hormuz, Jepang berupaya memastikan keamanan pasokan minyak melalui diversifikasi sumber dan pengisian cadangan strategis. Kedua perkembangan ini menyoroti betapa pentingnya kapal tanker dalam menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan energi internasional.
Ke depan, koordinasi antara negara-negara produsen minyak, konsumen utama, serta kekuatan militer di kawasan akan menentukan arah alur perdagangan laut. Pengawasan ketat, negosiasi diplomatik, dan kesiapan alternatif seperti “Rencana B” menjadi elemen kunci untuk mencegah gangguan lebih lanjut pada jalur pelayaran vital ini.