Indonesia Siap Mengadopsi Energi Nuklir, Tandai Awal Transisi Energi Bersih
Berita Pilihan 16 Mei 2026 – Perusahaan energi atom milik pemerintah Rusia, Rosatom, menawarkan kerja sama pengembangan energi nuklir kepada Pemerintah Indonesia. Penawaran ini disampaikan melalui serangkaian pertemuan tingkat tinggi yang dilakukan oleh delegasi Rosatom di Jakarta pada pertengahan Mei 2026.
Setelah melakukan pertemuan tertutup dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, delegasi Rosatom melanjutkan kunjungan ke Gedung DPD RI pada Rabu, 13 Mei 2026. Dalam pertemuan tersebut, Rosatom memaparkan berbagai teknologi mutakhir yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan energi negara kepulauan seperti Indonesia.
Salah satu poin utama dalam tawaran tersebut adalah pengembangan reaktor modular kecil (SMR) dan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terapung. Pihak Rosatom menilai bahwa PLTN terapung merupakan solusi yang sangat relevan untuk menyuplai listrik ke daerah-daerah terpencil dan wilayah Indonesia yang sulit dijangkau.
Selain penyediaan infrastruktur fisik, lingkup kerja sama yang ditawarkan mencakup: Pembangunan infrastruktur nuklir yang komprehensif, Program pelatihan sumber daya manusia (SDM) untuk mencetak tenaga ahli nuklir domestik, Transfer teknologi nuklir dari Rusia ke Indonesia, dan Pengembangan aplikasi nuklir untuk tujuan damai.
Langkah Rosatom ini disambut positif oleh pimpinan DPD RI. Energi nuklir dinilai sebagai alternatif energi bersih dan efisien yang mampu menopang kebutuhan listrik nasional dalam jangka panjang. Hal ini sejalan dengan target besar pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional melalui transisi ke energi alternatif yang rendah emisi.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga mendapat kunjungan dari Direktur Jenderal (Dirjen) Rosatom Rusia Alexey Likhachev untuk mendalami potensi pengembangan nuklir, baik di bidang energi maupun non-energi. BRIN ditugaskan untuk melakukan penjajakan kerja sama dengan Rosatom mengenai pengembangan teknologi nuklir yang sudah dirintis sejak 2006.
Indonesia dinilai terlambat beralih ke energi terbarukan. Gejolak harga energi akibat konflik di Timur Tengah dinilai menjadi pengingat bahwa ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil membuat ketahanan energi nasional rentan terhadap guncangan global. Direktur Transformasi, Digitalisasi, dan Sustainability Pertamina Patra Niaga Tenny Elfrida mengatakan, krisis energi global saat ini menunjukkan bahwa peralihan ke energi terbarukan tidak bisa lagi ditunda.
Di lain pihak, gempa dengan magnitudo awal 6,3 mengguncang Jepang timur laut pada Jumat tanpa peringatan tsunami, menurut Badan Meteorologi Jepang. Gempa yang terjadi pada pukul 20.22 waktu setempat itu berpusat di lepas pantai Prefektur Miyagi, sekitar 50 kilometer di bawah permukaan tanah.
Kesimpulan, Indonesia siap mengadopsi energi nuklir sebagai salah satu alternatif energi bersih dan efisien untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional. Kerja sama dengan Rosatom Rusia merupakan langkah awal dalam transisi energi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.