Kapal Induk dan Ketegangan di Selat Hormuz: Iran, AS, dan Sekutunya dalam Konflik
Berita Pilihan 11 Mei 2026 – Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat setelah Iran dan Amerika Serikat (AS) terlibat dalam konflik yang semakin memanas. Komandan senior Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim bahwa pengaruh militer AS di kawasan mulai melemah dan negara-negara lain tidak lagi merasa terintimidasi oleh pengerahan kapal induk Washington di perairan internasional.
Brigadir Jenderal Ahmad Zolghadr, penasihat senior pimpinan IRGC, mengatakan bahwa agresi AS-Israel terhadap Iran menunjukkan bahwa kekuatan global seperti AS, yang sebelumnya mengklaim mampu memberikan keamanan bagi negara lain, kini menghadapi tantangan serius. Zolghadr menyatakan bahwa era ketika pergerakan kapal perang AS dianggap sebagai tanda runtuhnya suatu negara telah berlalu.
Situasi ini memanas setelah Iran terus menghadapi upaya AS untuk mematahkan kendalinya atas jalur pelayaran utama di Teluk Persia. Iran telah memberlakukan pengawasan ketat terhadap lalu lintas kargo melalui Selat Hormuz, jalur strategis yang menangani seperlima kebutuhan minyak dunia, sejak awal agresi pada Maret.
Kapal perang AS yang mencoba mendekati perairan Iran dalam beberapa pekan terakhir berhasil dipukul mundur oleh tembakan langsung Iran dalam upaya Washington mematahkan kendali Teheran atas Selat Hormuz. Situasi ini disebut menggagalkan janji AS untuk memulihkan normalisasi pelayaran di Teluk Persia sekaligus semakin merusak citra Washington sebagai negara adidaya global.
Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa pengerahan pasukan Prancis ke Selat Hormuz tidak pernah dipertimbangkan tanpa adanya koordinasi dengan Iran. Macron juga menegaskan kesiapan Prancis untuk mendukung upaya-upaya yang bertujuan memulihkan lalu lintas maritim di jalur perairan strategis tersebut.
Prancis dan Inggris berencana mengerahkan kapal perang ke Hormuz untuk melindungi pelayaran komersial di kawasan tersebut. Namun, Iran memperingatkan bahwa kehadiran kapal-kapal angkatan laut Prancis dan Inggris di perairan Selat Hormuz atau sekitarnya akan memicu respons tegas dan segera dari Angkatan Bersenjata Teheran.
Ketegangan kawasan meningkat sejak AS dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian memicu serangan balasan Teheran terhadap Israel dan sekutu AS di kawasan Teluk, termasuk penutupan Selat Hormuz. Saat ini, berbagai upaya diplomatik tengah berlangsung untuk membuka kembali jalur strategis tersebut, yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, sekaligus mencegah pecahnya kembali konflik.
Kehadiran kapal induk dan kapal perang di Selat Hormuz semakin memperumit situasi yang sudah tegang. Iran, AS, dan sekutunya terlibat dalam konflik yang semakin memanas, dan tidak ada solusi yang jelas untuk mengakhiri ketegangan di kawasan tersebut.