Kontroversi dan Prestasi: Bhayangkara Presisi Guncang Super League 2026
Berita Pilihan 06 Mei 2026 – Bhayangkara Presisi kembali menjadi sorotan utama dalam persaingan Super League 2025/2026 setelah menampilkan kombinasi aksi gemilang di lapangan dan insiden di luar lapangan yang memicu perdebatan luas. Klub yang berbasis di Lampung ini tidak hanya menambah kualitas permainan dengan tiga pemain asing bertubuh tinggi, tetapi juga terlibat dalam dua isu besar: tuduhan rasisme yang melibatkan penyerang asal Pantai Gading Henry Doumbia, serta sanksi finansial terhadap lawan mereka, Persija Jakarta, setelah insiden suporter pada laga melawan Bhayangkara Presisi.
Rekrutmen pemain asing menjadi strategi kunci Bhayangkara Presisi. Pada fase awal musim ini, klub menandatangani tiga bekas bintang internasional: Robertlandy Simon, bek sentral asal Kuba setinggi 208 cm, yang menambah ketangguhan pertahanan; Rok Mozic, spiker asal Slovenia dengan catatan spike mencapai 359 cm, memperkuat lini serang; serta Henry Doumbia, penyerang cepat berusia 26 tahun yang pernah bermain di liga Asia Tengah. Ketiga pemain tersebut dijuluki “Elang” oleh media Korea yang melaporkan bahwa kehadiran mereka menakutkan lawan, khususnya dalam kompetisi AVC Champions League 2026.
- Robertlandy Simon – Tinggi 208 cm, bek pusat, pengalaman di liga Amerika Latin.
- Rok Mozic – Spike 359 cm, luar biasa dalam serangan udara, asal Slovenia.
- Henry Doumbia – Penyerang, kecepatan dan finishing, asal Pantai Gading.
Dalam turnamen AVC Champions League 2026, Bhayangkara Presisi menurunkan keempat pemain asingnya bersama dua pemain lokal, menampilkan taktik yang menekankan pada serangan balik cepat dan keunggulan set-piece. Media Korea menilai bahwa kehadiran “Elang” meningkatkan profil tim di kancah Asia, sekaligus menimbulkan kecemasan di antara rival yang belum terbiasa melawan kombinasi tinggi badan dan kecepatan pemain asing.
Polemik terbesar musim ini melibatkan Henry Doumbia. Pada pertandingan pekan ke‑30 Super League melawan Persib Bandung di Stadion Sumpah Pemuda, Doumbia mengklaim telah menerima perlakuan rasis dari kapten Persib, Marc Klok, setelah pernyataan “give me the ball back” dipahami sebagai “black”. Doumbia menegaskan melalui pernyataan resmi di Instagram bahwa ia tidak akan mengangkat isu ini tanpa dasar, dan menekankan pentingnya sportivitas. Klok kemudian mengklarifikasi maksudnya sebagai permintaan bola, namun menuduh manajer Bhayangkara, Sumardji, tetap menyebutnya rasis. Doumbia memilih menunggu proses resmi selesai dan berjanji tidak lagi berkomentar publik.
Sementara itu, Persija Jakarta menerima denda total Rp175 juta dari Komite Disiplin PSSI setelah pelanggaran suporter pada laga 5 April 2026 melawan Bhayangkara Presisi Lampung FC. Pelanggaran meliputi kehadiran suporter tamu, penyalahan flare, petasan, dan pelemparan benda ke area lapangan. Denda terbagi menjadi Rp25 juta untuk kehadiran suporter tamu, Rp120 juta untuk penggunaan flare dan petasan, serta Rp30 juta untuk pelemparan benda. Sanksi ini dijatuhkan menjelang pertandingan krusial Persija melawan Persib Bandung pada 10 Mei 2026, menambah tekanan pada manajemen klub untuk mengendalikan disiplin suporter.
Dampak gabungan dari performa pemain asing, kontroversi rasisme, dan sanksi finansial menciptakan dinamika baru dalam klasemen. Bhayangkara Presisi, berkat kontribusi Simon, Mozic, dan Doumbia, berada di posisi tiga besar dengan poin yang menempel kuat pada puncak. Persija, meski mengalami gangguan eksternal, tetap berusaha menjaga posisi di zona aman, sementara Persib Bandung menambah tekanan pada lawan-lawannya setelah kemenangan 4‑2 melawan Bhayangkara Presisi pada pertandingan sebelumnya.
Ke depan, Bhayangkara Presisi dijadwalkan menghadapi Persija Jakarta di Stadion Gelora Bung Karno pada minggu depan, sekaligus menyiapkan strategi untuk memperkuat pertahanan menghadapi serangan balik Persija. Sementara itu, manajemen klub berjanji akan menindaklanjuti kasus Doumbia secara internal, memastikan lingkungan yang inklusif bagi semua pemain. Semua peristiwa ini menegaskan bahwa Bhayangkara Presisi tidak hanya berkompetisi di atas lapangan, tetapi juga menjadi pusat perdebatan tentang etika, sportivitas, dan manajemen klub dalam era modern sepak bola Indonesia.