Ratusan Talenta Beradu di Seleksi U-17 Akademi BBP FC, Siapa yang Dapat Tiket?
Berita Pilihan 04 Mei 2026 – Sabtu, 2 Mei 2026, Stadion Mini Cisauk di Tangerang menjadi saksi ribuan langkah kaki muda yang menantang diri untuk masuk ke dalam akademi klub Liga 4 BBP FC. Lebih dari dua ratus pemain berusia 17 tahun berkumpul sejak pagi, masing-masing membawa mimpi menjadi pemain profesional dan harapan klub untuk menemukan bintang baru.
Seleksi U-17 ini digelar atas inisiatif langsung pemilik klub, Bayu Endaryanto, yang menekankan pentingnya membuka jalur pembinaan bagi talenta lokal. “Kami bukan sekadar mengadakan acara, melainkan memberi peluang nyata bagi pemain muda untuk berkembang di lingkungan klub,” ujar Bayu dalam sambutan pembukaan.
Proses seleksi dibagi menjadi tiga tahap utama: uji teknik dasar, simulasi pertandingan, dan penilaian sikap serta etos kerja. Pada tahap pertama, peserta diminta menunjukkan kontrol bola, dribel, serta akurasi operan dalam rangkaian drill yang diatur oleh tim pelatih kepala. Tahap kedua berupa dua pertandingan mini yang meniru kondisi kompetisi resmi, memberikan kesempatan bagi pelatih untuk menilai visi bermain, kecepatan berpindah posisi, dan kemampuan membaca situasi. Tahap terakhir menilai kedisiplinan, kerjasama tim, serta motivasi pribadi melalui wawancara singkat.
Berikut adalah rangkuman statistik singkat dari peserta yang terdaftar:
| Kabupaten/Kota | Jumlah Peserta | Persentase |
|---|---|---|
| Tangerang | 85 | 34% |
| Tangerang Selatan | 68 | 27% |
| Jakarta Barat | 32 | 13% |
| Depok | 28 | 11% |
| Lainnya | 37 | 15% |
Penilaian ketat para pelatih menghasilkan daftar pendek 20 pemain yang dianggap paling menjanjikan. Di antara mereka, tiga nama menonjol karena kombinasi kemampuan teknis dan karakter kuat: Rizky Pratama (tengah lapangan, Tangerang), Dinda Sari (penyerang, Tangerang Selatan), serta Fahmi Arif (bek, Depok). Ketiganya dipilih sebagai kandidat utama untuk masuk ke skuad akademi BBP FC yang akan berkompetisi dalam turnamen persiapan Suratin dan Piala Bupati.
Bayu Endaryanto menegaskan bahwa seleksi tidak berhenti pada hari itu. “Jika kami menemukan potensi yang belum tergali, proses scouting akan berlanjut hingga menjelang kompetisi resmi,” tambahnya. Ia juga mengingatkan bahwa selain kemampuan di lapangan, sikap profesional dan kemampuan belajar cepat menjadi kriteria utama klub.
Keberhasilan seleksi ini diharapkan memberi dampak positif bagi ekosistem sepak bola lokal. Menurut pengamat sepak bola daerah, peningkatan program akademi di level Liga 4 dapat memperkuat basis pemain muda, memperkecil jarak antara tingkat amatir dan profesional, serta membuka peluang lebih banyak bagi pemain dari daerah suburban untuk menembus kancah nasional.
Selain BBP FC, contoh klub lain yang berhasil memanfaatkan akademi usia muda adalah Garudayaksa FC, yang baru-baru ini melaju ke BRI Super League setelah menonjolkan talenta usia di bawah 18 tahun. Keberhasilan tersebut menambah bukti bahwa investasi pada program akademi dapat mempercepat kemajuan tim dalam kompetisi tinggi.
Dengan hasil seleksi yang masih terbuka lebar, BBP FC menargetkan pengumuman final pada minggu depan. Para pemain yang berhasil lolos akan segera mengikuti program intensif selama enam bulan, termasuk pelatihan taktik, kebugaran, dan pertandingan persahabatan melawan klub-klub selevel di wilayah Jabodetabek.
Seleksi U-17 ini bukan hanya kompetisi, melainkan panggung pertama bagi generasi baru yang ingin menorehkan nama di dunia sepak bola Indonesia. Bagi mereka yang berhasil, tiket ke akademi BBP FC menjadi gerbang menuju karier profesional; bagi yang belum terpilih, pengalaman ini menjadi batu loncatan untuk pencarian kesempatan di klub lain.