Mourinho Tak Pernah Kalah, Tapi Gagal Juara: Drama Benfica di Akhir Musim 2025/2026
Berita Pilihan 04 Mei 2026 – Benfica kembali menjadi sorotan utama Liga Portugal setelah menyelesaikan musim 2025/2026 dengan rekor luar biasa: tak satu kali dikalahkan dalam 32 pertandingan. Namun, catatan tak terkalahkan itu tidak cukup untuk mengamankan gelar juara. Di bawah asuhan Jose Mourinho, tim asal Lisbon itu hanya mampu mengakhiri kampanye dengan satu poin di belakang FC Porto, yang dipimpin oleh presiden sekaligus mantan asisten Mourinho, André Villas‑Boas.
FC Porto menutup musim dengan kemenangan tipis 1-0 atas Alverca pada 2 Mei 2026 di Estádio do Dragão. Gol tunggal Jan Bednarek pada menit ke‑40 memastikan klub meraih poin ke‑85, melampaui pesaing terdekatnya, Benfica, yang mengumpulkan 84 poin. Keberhasilan ini menambah koleksi liga ke‑31 Porto dan menandai debut gemilang Francesco Farioli sebagai pelatih utama, sekaligus menegaskan kebangkitan klub di bawah kepemimpinan Villas‑Boas.
Sementara itu, Benfica yang dilatih Jose Mourinho mencatat performa impresif: 24 kemenangan, 8 seri, dan 0 kekalahan hingga akhir pekan ke‑34. Statistik tersebut menjadikan mereka tim tak terkalahkan terlama dalam sejarah liga Portugal modern. Namun, satu hasil imbang melawan Famalicão (2‑2) pada pekan ke‑35 mengurangi selisih poin menjadi hanya satu, yang pada akhirnya memberi Porto keunggulan matematis.
Berikut ringkasan statistik akhir musim kedua tim utama:
- FC Porto: 34 pertandingan, 27 menang, 4 seri, 3 kalah, 85 poin.
- Benfica (Mourinho): 34 pertandingan, 24 menang, 8 seri, 0 kalah, 84 poin.
Keberhasilan tak terkalahkan Mourinho memang menimbulkan perdebatan di kalangan analis. Beberapa menganggap gaya permainan defensif yang disiplin, didukung oleh pola pressing yang ketat, berhasil menahan serangan lawan. Namun, kritik menyoroti kurangnya efektivitas dalam mengubah seri menjadi kemenangan, terutama di laga-laga penting melawan rival tradisional.
Hubungan lama antara Mourinho dan Villas‑Boas menambah warna dalam narasi ini. Pada awal 2000‑an, Villas‑Boas pernah menjadi asisten Mourinho di Porto, berkontribusi pada dua gelar Liga Champions beruntun. Sekarang, keduanya berada di posisi berlawanan: Villas‑Boas sebagai presiden klub juara, dan Mourinho sebagai pelatih yang terpaksa menonton rivalnya mengangkat trofi.
Selain kompetisi domestik, dinamika liga Portugal juga dipengaruhi oleh performa klub lain seperti Sporting CP, yang menyelesaikan musim di posisi ketiga dengan 73 poin. Persaingan ketat antara tiga klub besar menciptakan atmosfer kompetitif yang jarang terlihat di musim-musim sebelumnya.
Di panggung internasional, nama Mourinho kembali muncul dalam perbincangan. Meskipun tidak terlibat secara langsung di Liga Champions musim ini, reputasinya tetap menjadi bahan perbincangan karena sejarahnya yang kaya, termasuk dua gelar Liga Champions bersama Porto pada 2004 dan 2005.
Kesimpulannya, meski Jose Mourinho mencatat rekor tak terkalahkan yang mengesankan, kegagalannya mengamankan gelar juara menegaskan bahwa konsistensi bukan satu‑satunya faktor penentu kemenangan. Keberhasilan FC Porto di bawah André Villas‑Boas dan Francesco Farioli menunjukkan bahwa inovasi taktik, manajemen pemain, serta sedikit keberuntungan dapat mengubah nasib sebuah musim.