Mengapa FIFA ASEAN Cup 2026 Tak Bergabung dengan Piala AFF? Ini 5 Alasan Utama
Berita Pilihan 04 Mei 2026 – Jelang edisi perdana FIFA ASEAN Cup 2026, dunia sepak bola Asia Tenggara dikejutkan dengan fakta dua turnamen besar tetap terpisah. Padahal, banyak penggemar berharap satu kompetisi regional yang menyatukan seluruh anggota ASEAN akan memberi tontonan lebih spektakuler. Namun, kombinasi antara sejarah panjang AFF Championship, kepentingan komersial, serta regulasi kalender FIFA membuat integrasi menjadi sangat rumit.
Turnamen baru yang diperkenalkan oleh Presiden FIFA Gianni Infantino pada KTT ASEAN ke-47 di Malaysia Oktober 2025 direncanakan berlangsung pada 21 September hingga 6 Oktober 2026. FIFA menekankan bahwa kompetisi ini akan masuk dalam kalender resmi FIFA Matchday, sehingga klub harus melepaskan pemainnya tanpa pengecualian. Sementara itu, Piala AFF, yang telah digelar sejak 1996, tetap beroperasi di luar kalender FIFA, sehingga klub sering menolak melepaskan talenta terbaik mereka.
Berikut lima faktor utama yang menjelaskan mengapa kedua turnamen belum dapat digabungkan:
- Sejarah dan Identitas Organisasi – AFF Championship telah menjadi ajang tradisional dengan tradisi, rivalitas, dan format yang sudah mapan. Mengganti atau menyatukannya dengan turnamen yang baru dibentuk akan menghilangkan nilai historis yang dijunjung tinggi oleh federasi masing-masing.
- Kontrak Komersial yang Sudah Ada – Hak siar televisi, sponsor, dan kesepakatan komersial untuk AFF Championship telah ditandatangani bertahun‑tahun. Menggabungkan turnamen akan menuntut renegosiasi yang kompleks dan berpotensi menurunkan pendapatan bagi kedua belah pihak.
- Kalender Kompetisi yang Padat – Tahun 2026 sudah dipenuhi dengan jadwal internasional, kompetisi klub, serta turnamen regional lainnya. Penambahan satu turnamen besar akan memaksa federasi menyesuaikan jadwal yang dapat mengorbankan persiapan tim nasional.
- Kepentingan Klub – Klub-klub di Asia Tenggara masih enggan melepas pemain untuk kompetisi yang tidak berada dalam kalender resmi FIFA. Dengan FIFA ASEAN Cup masuk kalender FIFA, klub akan dipaksa menyerahkan pemainnya, sedangkan AFF Championship tetap bergantung pada negosiasi ad‑hoc.
- Strategi Pengembangan Pemain Diaspora – FIFA ASEAN Cup memberi kesempatan bagi tim nasional, termasuk Indonesia, untuk memanggil pemain diaspora seperti Jay Idzes, Calvin Verdonk, atau Kevin Diks yang biasanya sulit dipanggil dalam AFF Championship karena konflik jadwal. Kedua turnamen secara bersamaan membuka jalur pengembangan bakat yang berbeda.
Faktor‑faktor di atas menciptakan situasi “terbelah dua” yang menimbulkan tantangan logistik dan politik. Sebagai contoh, keputusan Dewan FIFA di Zurich, Swiss, untuk menyetujui FIFA ASEAN Cup disertai dengan pernyataan resmi yang menegaskan pentingnya turnamen tersebut sebagai bagian dari agenda global FIFA. Namun, AFF tetap berpegang pada kebijakan internalnya, menolak integrasi yang dapat mengurangi otonomi mereka.
Di sisi lain, publik Indonesia dan negara‑negara ASEAN lainnya justru diuntungkan oleh adanya dua kompetisi dalam satu tahun. Penonton dapat menyaksikan dua versi Piala ASEAN, masing‑masing menampilkan gaya permainan dan strategi yang berbeda. Bagi pemain, kesempatan bermain lebih sering di level internasional meningkatkan eksposur dan nilai pasar mereka.
Meskipun ada harapan bahwa kedua organisasi akan menemukan titik temu dalam jangka panjang, realitas saat ini menuntut masing‑masing menjaga identitas dan kepentingannya. Hanya bila kontrak komersial selesai, serta kalender FIFA dan AFF dapat disejajarkan, baru kemungkinan penggabungan akan menjadi nyata.
Untuk sementara, para penggemar harus siap menyaksikan dua turnamen sekaligus, dengan FIFA ASEAN Cup menjadi sorotan utama pada musim gugur 2026, sementara AFF Championship tetap melanjutkan tradisinya di akhir tahun. Kedua kompetisi tersebut akan memberikan peluang baru bagi timnas Indonesia untuk menampilkan skuad kuat, memanfaatkan pemain diaspora, dan mengukir prestasi di panggung regional.