Berita Pilihan

Presiden Taiwan Memukau Dunia: Kunjungan Bersejarah ke Eswatini di Bawah Bayang‑bayang China

admin ·
Presiden Taiwan Memukau Dunia: Kunjungan Bersejarah ke Eswatini di Bawah Bayang‑bayang China

Berita Pilihan 03 Mei 2026 – Presiden Taiwan menjejakkan kaki di Eswatini pada hari Senin, menandai kunjungan diplomatik pertama yang berhasil setelah serangkaian penundaan akibat penolakan China dalam memberikan izin lintas udara. Kedatangan sang kepala negara tidak hanya menegaskan tekad Taipei untuk mempertahankan hubungan luar negeri yang tersisa, tetapi juga menyoroti dinamika geopolitik yang semakin rumit di kawasan Indo‑Pasifik.

Awal rencananya, Presiden Taiwan dijadwalkan melakukan perjalanan ke beberapa negara Afrika pada akhir tahun lalu. Namun, China menolak memberikan izin overflight, memaksa tim diplomatik Taiwan mencari jalur alternatif yang lebih lama dan mahal. Penolakan tersebut memicu tuduhan langsung dari pihak Taipei, yang menuduh Beijing menggunakan tekanan udara sebagai alat politik untuk mengisolasi Taiwan di panggung internasional.

Baca juga:

Sesampainya di Mbabane, ibu kota Eswatini, Presiden Taiwan disambut oleh Raja Mswati III beserta pejabat tinggi pemerintahan. Upacara penyambutan diwarnai dengan pertunjukan budaya tradisional Swazi, menandakan kehangatan hubungan bilateral yang telah terjalin sejak 1969. Dalam pidatonya, Presiden menekankan pentingnya solidaritas antar negara kecil yang menghadapi tekanan besar dari kekuatan global.

“Kami menghargai dukungan Eswatini yang konsisten, terutama dalam situasi dimana tekanan eksternal semakin intens,” ujar Presiden. “Hubungan kami didasarkan pada prinsip kedaulatan, demokrasi, dan hak asasi manusia, nilai‑nilai yang juga dijunjung tinggi oleh rakyat Eswatini.”

Selain menandatangani perjanjian kerjasama di bidang pertanian, kesehatan, dan teknologi informasi, kunjungan ini juga mencakup pembahasan tentang partisipasi Eswatini dalam forum internasional yang mendukung Taiwan. Kedua negara sepakat untuk memperkuat jaringan diplomatik yang semakin menipis, mengingat Taiwan kini hanya memiliki dua belas sekutu resmi yang mengakui kedaulatannya secara penuh.

Berikut adalah daftar lengkap dua belas negara yang masih mempertahankan hubungan diplomatik resmi dengan Taiwan:

Baca juga:
  • Eswatini
  • Guatemala
  • Haiti
  • Paraguay
  • Belize
  • Nauru
  • Palau
  • Marshall Islands
  • Tuvalu
  • St. Kitts & Nevis
  • St. Lucia
  • St. Vincent and the Grenadines

Daftar tersebut mencerminkan konsentrasi dukungan Taiwan di kawasan Afrika, Karibia, dan Pasifik. Masing‑masing negara sekutu memiliki kepentingan ekonomi dan politik yang unik, namun semua sepakat untuk menolak tekanan diplomatik yang dilancarkan oleh Beijing.

Para pengamat internasional menilai kunjungan ini sebagai upaya strategis Taipei untuk menonjolkan keberadaan diplomatiknya di tengah upaya China mengurangi jumlah pengakuan internasional Taiwan. Dengan menyoroti dukungan Eswatini, Taiwan berharap dapat menarik perhatian negara‑negara lain yang berada di persimpangan kepentingan ekonomi dan politik.

Namun, tidak semua pihak menanggapi langkah ini secara positif. Pemerintah China secara resmi mengeluarkan pernyataan yang menyatakan kunjungan tersebut melanggar prinsip “Satu China” dan menegaskan bahwa negara‑negara yang mengakui Taiwan akan menghadapi konsekuensi ekonomi dan politik. Beijing juga memperingatkan bahwa bantuan keuangan dan investasi dapat dipertimbangkan kembali bagi negara‑negara yang tetap mempertahankan hubungan dengan Taipei.

Di sisi lain, Eswatini menegaskan komitmennya untuk terus menjalin kerja sama dengan Taiwan, sekaligus menolak setiap ancaman ekonomi yang bersifat coercive. “Kedaulatan kami tidak akan dipengaruhi oleh tekanan eksternal,” tegas perwakilan Eswatini dalam konferensi pers bersama Presiden Taiwan.

Baca juga:

Kunjungan ini juga membuka peluang bagi sektor swasta Taiwan untuk berinvestasi di Eswatini, khususnya dalam proyek pertanian berkelanjutan dan teknologi digital. Beberapa perusahaan teknologi Taiwan berencana mengadakan dialog dengan pemerintah setempat untuk mengimplementasikan solusi smart farming yang dapat meningkatkan produktivitas dan keamanan pangan.

Secara keseluruhan, kedatangan Presiden Taiwan di Eswatini menandai babak penting dalam strategi diplomasi Taipei. Meskipun menghadapi rintangan berat dari China, Taiwan berhasil menegaskan eksistensinya di arena internasional melalui jaringan aliansi yang masih bertahan. Keberhasilan ini tidak hanya mengukuhkan posisi politiknya, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi kedua negara yang bersinergi dalam bidang teknologi dan pertanian.

Dengan menegaskan kembali dukungan dari dua belas sekutu, Taiwan menunjukkan tekad kuat untuk mempertahankan kedaulatan dan partisipasi globalnya, meski berada di tengah tekanan geopolitik yang terus meningkat.