Berita Pilihan

Kecelakaan KRL Bekasi: Penumpang Selamat Ungkap Keanehan Sebelum KRL Terpental

admin ·
Kecelakaan KRL Bekasi: Penumpang Selamat Ungkap Keanehan Sebelum KRL Terpental

Berita Pilihan 01 Mei 2026 – Stasiun Bekasi Timur menjadi saksi tragedi pada malam Senin (27/4/2026) ketika rangkaian kereta Commuter Line (KRL) yang melaju dari Cikarang ke arah Jakarta menabrak taksi berwarna hijau yang terhenti di rel. Insiden itu membuat KRL berhenti sejenak, namun tak lama kemudian kereta yang sama ditabrak oleh KA Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah Jakarta. Benturan dua kali itu menimbulkan kerusakan parah pada gerbong KRL, memuntahkan penumpang ke luar, dan menimbulkan kebingungan serta kepanikan di antara para penumpang.

Sejumlah saksi memberikan kesaksian yang menggambarkan kondisi mencekam sebelum tabrakan. Rara Dania, salah satu penumpang yang selamat, mengaku merasakan kereta terdorong secara tiba‑tiba sebelum terdengar suara keras yang menandakan benturan. “Tiba‑tiba gue jatuh ke kiri, pipi gue kebentur aspal, tiga jari gue terjepit, HP gue terlempar, lalu terdengar teriakan ‘Woi keluar!’” ujar Rara dalam utas media sosialnya. Ia menambahkan bahwa lampu gerbong mati mendadak dan asap tebal mengisi kabin, sehingga banyak penumpang kebingungan mencari jalan keluar.

Baca juga:

Anggita Rizka Utami, yang berada di gerbong prioritas, juga menceritakan pengalaman serupa. Saat kereta berhenti di Stasiun Bekasi Timur karena insiden taksi, ia menunggu informasi lebih lanjut. Namun, sebelum pesan singkatnya sempat terkirim ke suami, KRL diserang oleh Argo Bromo Anggrek. “Tubuh gue terlempar, menumpuk dengan penumpang lain, dan hampir tertimpa rel,” ungkap Anggita. Beruntung pintu gerbong terbuka, ia berhasil melangkah keluar meski dalam kondisi syok berat.

Keanehan sebelum kecelakaan juga diungkap oleh penumpang lain yang menyebutkan adanya getaran aneh pada rel dan suara berderak yang terdengar sebelum tabrakan utama. Beberapa saksi melaporkan bahwa sebelum taksi menabrak KRL, terdengar suara “klik” pada rel yang kemudian diikuti oleh getaran kuat pada kereta, menandakan adanya masalah pada infrastruktur yang belum terdeteksi.

Baca juga:

Data resmi KAI mencatat total 107 korban, terdiri dari 16 orang yang meninggal dunia dan 91 orang luka‑luka. Dari jumlah tersebut, 43 penumpang telah dipulangkan, sementara sisanya masih menjalani perawatan di rumah sakit. Salah satu korban yang tidak mengalami luka fisik, Nurhayati, meninggal karena syok berat dalam perjalanan ambulans. Anaknya, Sofia, menjelaskan bahwa ibu mereka berada di gerbong tengah yang tidak terdampak langsung, namun kepanikan penumpang lain memicu peningkatan tekanan emosional yang menyebabkan serangan jantung.

Proses evakuasi menjadi tantangan tersendiri. Dimas Saputra, sopir ambulans swasta, melaporkan bahwa ia bekerja lebih dari 10 jam tanpa henti, mengangkut korban dari lokasi kejadian ke RSUD Kota Bekasi. Diperkirakan sekitar 300 ambulans dikerahkan, dengan kepadatan lalu lintas yang membuat proses transportasi menjadi lambat. “Kondisi jalan padat, ambulans hampir tak bisa lewat, namun kami tetap berusaha mengantar korban, terutama yang luka ringan, ke rumah sakit,” kata Dimas.

Baca juga:

Pihak KAI menegaskan bahwa penyelidikan terhadap penyebab insiden sedang berlangsung. Sementara itu, layanan KRL lintas Bekasi‑Cikarang mulai dipulihkan secara bertahap, dengan uji coba operasional pertama telah dilakukan pada malam hari setelah evakuasi selesai. Penumpang yang selamat menekankan pentingnya peningkatan sistem peringatan dini dan pemeriksaan rutin pada infrastruktur rel untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.

Kejadian ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai keamanan rel, prosedur darurat, serta kesiapan petugas dalam menghadapi situasi kritis. Dengan fokus pada perbaikan teknis dan pelatihan penanganan bencana, diharapkan tragedi serupa tidak terulang kembali.