Berita Pilihan

Dedi Mulyadi Yakin Susi Pudjiastuti Lolos Fit and Proper Test OJK, Apa Alasannya?

admin ·
Dedi Mulyadi Yakin Susi Pudjiastuti Lolos Fit and Proper Test OJK, Apa Alasannya?

Berita Pilihan 30 April 2026 – Dedi Mulyadi, anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), baru-baru ini menyatakan keyakinannya bahwa mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti akan berhasil melewati fit and proper test yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pernyataan tersebut muncul bersamaan dengan usulan Dedi untuk menempatkan Susi sebagai komisaris baru Bank BJB, sebuah langkah yang menarik perhatian publik dan kalangan bisnis.

Menurut Dedi, keberhasilan Susi dalam menghadapi tes tersebut tidak lepas dari rekam jejaknya yang panjang di bidang regulasi, kepemimpinan, serta pengalaman mengelola aset publik dan swasta. “Susi memiliki integritas tinggi, pemahaman mendalam tentang regulasi, serta visi yang jelas untuk memajukan sektor keuangan, terutama di wilayah Jawa Barat,” ujar Dedi dalam sebuah konferensi pers di Jakarta pada Senin (30 April 2026).

Baca juga:

Susi Pudjiastuti memang dikenal luas sebagai sosok yang tegas dan inovatif selama menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan (2014-2019). Di bawah kepemimpinannya, Indonesia berhasil menurunkan tingkat penangkapan ikan ilegal serta meningkatkan pendapatan nelayan melalui program-program berbasis teknologi. Keberhasilan tersebut menambah nilai plus pada profilnya ketika dipertimbangkan untuk peran di sektor perbankan.

Fit and proper test OJK merupakan mekanisme evaluasi yang menilai kelayakan moral, kompetensi profesional, serta rekam jejak calon pejabat atau komisaris dalam mengelola institusi keuangan. Tes ini mencakup analisis latar belakang kriminal, kepatuhan terhadap peraturan, dan kemampuan strategis dalam mengarahkan kebijakan keuangan. Oleh karena itu, calon yang dinilai harus mampu menunjukkan tidak hanya keahlian teknis, tetapi juga integritas yang tak terbantahkan.

Berikut ini beberapa poin utama yang menjadi pertimbangan Dedi dalam menilai kelayakan Susi:

Baca juga:
  • Pengalaman Kebijakan Publik: Sebagai mantan menteri, Susi telah terbiasa bekerja dengan regulasi tinggi dan memiliki jaringan luas di kalangan regulator.
  • Integritas dan Anti Korupsi: Tidak ada catatan pelanggaran hukum atau dugaan korupsi yang menimpa Susi selama masa jabatan maupun setelahnya.
  • Kompetensi Manajerial: Kepemimpinan Susi dalam mengelola lembaga pemerintah menunjukkan kemampuan mengatur sumber daya secara efisien.
  • Visi Keuangan Inklusif: Susi pernah mengusulkan program pembiayaan mikro bagi nelayan, yang sejalan dengan misi BJB untuk mendukung UMKM.

Selain itu, Dedi menyoroti bahwa BJB sebagai bank milik daerah memiliki mandat khusus untuk memperkuat ekonomi lokal. Penempatan Susi sebagai komisaris diharapkan dapat mempercepat sinergi antara kebijakan publik dan layanan keuangan, terutama dalam sektor perikanan dan agribisnis.

Namun, tidak semua pihak menyambut baik usulan tersebut. Beberapa analis mengingatkan pentingnya pemisahan fungsi antara regulasi dan bisnis, serta menekankan bahwa proses fit and proper test harus tetap independen tanpa intervensi politik. “Apapun nama dan reputasi calon, OJK harus menjamin objektivitas dalam penilaiannya,” kata seorang pakar keuangan dari Universitas Indonesia dalam sebuah wawancara.

Meski ada keraguan, Dedi tetap optimis. Ia menambahkan bahwa proses evaluasi OJK sudah dilengkapi dengan tim auditor independen dan mekanisme pengawasan ketat. “Jika ada kekurangan, kami siap membantu memperbaiki, tetapi saya yakin Susi akan melewati semua tahapan dengan baik,” tegas Dedi.

Baca juga:

Dalam beberapa minggu ke depan, OJK dijadwalkan menyelesaikan penilaian fit and proper test untuk calon komisaris BJB, termasuk Susi Pudjiastuti. Hasil akhir akan diumumkan secara resmi melalui portal OJK dan menjadi acuan bagi BJB dalam menentukan struktur dewan komisarisnya.

Secara keseluruhan, dukungan Dedi Mulyadi terhadap Susi Pudjiastuti mencerminkan kepercayaan pada kemampuan individu berpengalaman dalam mengelola tantangan keuangan modern. Jika usulan tersebut terwujud, kehadiran Susi di BJB dapat menjadi contoh sinergi antara kebijakan publik, pengalaman bisnis, dan regulasi keuangan yang harmonis.

Bagaimanapun, proses fit and proper test tetap menjadi penentu utama. Keberhasilan Susi dalam melewati tes tersebut akan membuka peluang baru bagi peran perempuan dalam kepemimpinan keuangan Indonesia, sekaligus memperkuat posisi BJB sebagai bank yang berorientasi pada pembangunan daerah.