Berita Pilihan

Petrosea (PTRO) Catat Laba Bersih Naik 50,54% dan Pendapatan Melonjak 84% pada Kuartal I 2026

admin ·
Petrosea (PTRO) Catat Laba Bersih Naik 50,54% dan Pendapatan Melonjak 84% pada Kuartal I 2026

Berita Pilihan 29 April 2026 – PT Petrosea Tbk (PTRO), kontraktor tambang milik Prajogo Pangestu, mengumumkan hasil keuangan kuartal pertama 2026 yang menunjukkan pertumbuhan ganda digit. Kinerja ini menegaskan kekuatan perusahaan di sektor pertambangan, rekayasa, serta layanan minyak dan gas lepas pantai.

Pendapatan total Petrosea kuartal I mencapai US$284,13 juta (sekitar Rp4,82 triliun), meningkat 84,23% secara tahunan dibandingkan US$154,21 juta pada periode yang sama tahun lalu. Lonjakan tersebut sebagian besar berasal dari tiga lini utama.

Baca juga:

Segmen penambangan mencatat pendapatan US$140,56 juta, tumbuh 271,63% yoy, didorong oleh kontrak besar dengan BP Berau Ltd, PT Freeport Indonesia, dan PT Kideco Jaya Agung. Segmen rekayasa dan konstruksi menyumbang US$106,43 juta, naik 53,97% yoy. Lini EPCI minyak dan gas lepas pantai memberikan tambahan US$13,58 juta, sementara pendapatan jasa mencapai US$9,19 juta (naik 15,04% yoy). Pendapatan lain-lain tercatat US$501 ribu, mengalami penurunan 25,44% yoy.

Berikut ringkasan kinerja keuangan Petrosea kuartal I 2026:

Item Nilai (US$) YoY
Pendapatan Total 284,13 juta +84,23%
Pendapatan Penambangan 140,56 juta +271,63%
Pendapatan Rekayasa & Konstruksi 106,43 juta +53,97%
Pendapatan EPCI Minyak & Gas 13,58 juta Baru
Pendapatan Jasa 9,19 juta +15,04%
Laba Bersih 1,38 juta +50,54%
Beban Usaha Langsung 247,44 juta +79,14%

Laba bersih Petrosea kuartal I mencapai US$1,38 juta (sekitar Rp23,54 miliar) atau naik 50,54% yoy dari US$920.000 pada kuartal yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan laba bersih sejalan dengan lonjakan laba kotor yang melonjak menjadi US$36,69 juta, naik 127,94% dibandingkan US$16,09 juta pada 2025.

Baca juga:

Namun, pertumbuhan pendapatan diiringi dengan kenaikan beban usaha yang signifikan. Beban usaha langsung naik menjadi US$247,44 juta, hampir dua kali lipat dibandingkan US$138,12 juta pada akhir 2025, mencerminkan peningkatan biaya material, tenaga kerja, dan logistik seiring ekspansi proyek. Beban penjualan dan administrasi juga meningkat menjadi US$12,21 juta, sementara beban bunga dan keuangan naik menjadi US$17,31 juta.

Dari sisi neraca, total aset PTRO per 31 Maret 2026 tercatat US$1,60 miliar, naik 1,41% dari akhir Desember 2025. Liabilitas total mencapai US$1,29 miliar, meningkat 1,57% YoY, sedangkan ekuitas sedikit menurun menjadi US$306,55 juta karena penarikan laba ditahan untuk mendukung ekspansi.

Analisis menunjukkan bahwa diversifikasi lini bisnis menjadi kunci utama pertumbuhan. Masuknya Petrosea ke segmen EPCI minyak dan gas lepas pantai menambah sumber pendapatan baru, sementara kontrak penambangan besar memberikan dorongan volume yang luar biasa. Meskipun beban biaya meningkat, margin kotor tetap kuat, menandakan kemampuan perusahaan mengelola efisiensi operasional.

Baca juga:

Para analis pasar menilai bahwa prospek Petrosea ke depan tetap positif asalkan perusahaan dapat mengendalikan biaya operasional dan menjaga kualitas eksekusi proyek. Faktor eksternal seperti harga komoditas, kebijakan energi, dan kondisi makroekonomi Indonesia akan tetap mempengaruhi kinerja kuartal berikutnya.

Secara keseluruhan, Petrosea kuartal I menunjukkan kinerja keuangan yang solid dengan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih yang mengesankan, mengukuhkan posisinya sebagai pemain utama dalam industri pertambangan dan konstruksi di Indonesia.