Berita Pilihan

Godzilla El Nino: Ancaman Super El Nino yang Membakar Ribuan Hektar Gambut Sumatera

admin ·
Godzilla El Nino: Ancaman Super El Nino yang Membakar Ribuan Hektar Gambut Sumatera

Berita Pilihan 30 April 2026 – Fenomena iklim ekstrem yang kini disebut “Godzilla El Nino” mulai mengkhawatirkan para ahli lingkungan Indonesia. Diproyeksikan terjadi pada awal 2026, varian El Nino ini diperkirakan lebih kuat daripada siklus El Nino biasa, sehingga menimbulkan suhu tinggi, curah hujan menurun drastis, dan meningkatkan risiko kebakaran hutan di wilayah gambut.

Data resmi yang dihimpun antara Januari hingga Maret 2026 mencatat total 23.546 titik panas terdeteksi di dalam Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) secara nasional. Konsentrasi paling tinggi terpusat di provinsi Riau dengan 8.930 titik, diikuti Aceh (1.975), Jambi (359), dan Sumatra Selatan (164). Berikut rangkuman singkat data hotspot:

Baca juga:
  • Riau: 8.930 titik
  • Aceh: 1.975 titik
  • Jambi: 359 titik
  • Sumatra Selatan: 164 titik

Juru Kampanye Pantau Gambut, Putra Saptian, menegaskan bahwa pola penyebaran titik panas ini bukan sekadar kebetulan alam, melainkan cerminan masalah struktural dalam tata kelola lahan gambut. Menurutnya, mayoritas hotspot berada di dalam area konsesi, termasuk wilayah Hak Guna Usaha (HGU) dan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH). Praktik pembangunan kanal untuk mengeringkan lahan guna mendukung perkebunan monokultur menjadi pemicu utama, karena mengurangi kadar kelembapan alami gambut dan menjadikannya sangat rentan terbakar.

Putra menambahkan, istilah “Godzilla El Nino” dipakai untuk menggambarkan skala intensitas yang jauh melampaui El Nino standar. Ia memperingatkan bahwa kombinasi suhu ekstrim dan lahan gambut yang telah dikeringkan dapat memicu kebakaran hutan berskala mega, sekaligus mempercepat pelepasan karbon yang tersimpan selama ribuan tahun.

Baca juga:

Secara ilmiah, gambut Indonesia menyimpan sekitar 57 gigaton karbon, setara dengan 20 kali cadangan karbon pada tanah mineral biasa. Jika terbakar, karbon tersebut dilepaskan ke atmosfer sebagai gas rumah kaca, memperparah perubahan iklim global. Gambut dunia menyumbang sekitar 30 persen total karbon bumi, menjadikannya komponen kritis dalam upaya mitigasi iklim.

Aditya Prakoso, Manager Program WALHI Jambi, menekankan bahwa solusi tidak dapat berhenti pada sekadar pemadaman api. Ia menyoroti perlunya reformasi mendalam dalam manajemen lahan industri, penegakan regulasi yang ketat, serta restorasi ekosistem gambut. “Akar masalahnya ada pada tata kelola lahan, perlindungan ekosistem gambut, dan praktik pembukaan lahan berisiko tinggi di sektor industri,” ujar Aditya.

Baca juga:

Jika “Godzilla El Nino” terus mengamuk, konsekuensi yang dapat dihadapi meliputi peningkatan frekuensi kebakaran hutan, degradasi kualitas udara, gangguan kesehatan masyarakat, serta kerusakan habitat keanekaragaman hayati. Pemerintah dan pemangku kepentingan diharapkan memperkuat koordinasi antar lembaga, mempercepat program rewetting gambut, serta meninjau kembali izin konsesi yang berpotensi memperparah kondisi.

Kesimpulannya, fenomena “Godzilla El Nino” bukan sekadar istilah dramatis, melainkan peringatan serius bagi Indonesia untuk segera mengatasi masalah struktural pada lahan gambut. Upaya preventif, seperti penutupan kanal ilegal, penghentian ekspansi monokultur di area rawan, serta pelibatan masyarakat lokal dalam pemantauan, menjadi kunci utama dalam mencegah bencana ekologis yang dapat menambah beban perubahan iklim global.