Berita Pilihan

Abdul Kadir Karding Resmi Dilantik Kepala Badan Karantina Indonesia, Siapkan Rp5 Triliun Modernisasi Laboratorium

admin ·
Abdul Kadir Karding Resmi Dilantik Kepala Badan Karantina Indonesia, Siapkan Rp5 Triliun Modernisasi Laboratorium

Berita Pilihan 29 April 2026 – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi melantik Abdul Kadir Karding sebagai Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) pada Senin, 27 April 2026 di Istana Negara, Jakarta. Pelantikan tersebut dilakukan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 50/TPA/Tahun 2026 tentang pemberhentian dan pengangkatan pejabat tinggi di lingkungan Badan Karantina Indonesia. Abdul Kadir Karding, yang sebelumnya dikenal sebagai legislator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), menerima jabatan tertinggi ini dengan menyatakan kesiapannya menunaikan amanah negara dalam menjaga keamanan pangan, kesehatan hewan, dan tumbuhan serta mengawasi arus perdagangan internasional.

Dalam sambutan singkatnya, Abdul Kadir Karding menekankan pentingnya penguatan pengawasan karantina di seluruh gerbang masuk Indonesia, mulai dari pelabuhan, bandara, hingga tol laut. Ia menegaskan bahwa Barantin akan mengoptimalkan sumber daya manusia, meningkatkan kapasitas laboratorium, serta memperluas jaringan kerja sama internasional demi melindungi konsumen dan petani domestik dari ancaman penyakit dan kontaminasi.

Baca juga:

Beberapa prioritas utama yang diungkapkan oleh Kepala Barantin meliputi:

  • Modernisasi laboratorium nasional: Anggaran sebesar Rp5 triliun akan dialokasikan untuk memperbaharui peralatan laboratorium di seluruh wilayah Indonesia, termasuk laboratorium di Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.
  • Pengawasan ketat pada arus barang: Pengetatan inspeksi pada komoditas pertanian, hewan kurban, dan produk unggas, khususnya menjelang perayaan Idul Adha dan Lebaran.
  • Kerjasama bilateral: Barantin telah menandatangani nota kesepahaman dengan Kanada untuk meningkatkan keamanan pangan di kawasan ASEAN, termasuk pertukaran data dan teknologi deteksi patogen.
  • Pengendalian penyakit zoonotik: Fokus pada pencegahan masuknya virus Nipah, Peste des Petits Ruminants (PPR), serta burung ilegal yang dapat menjadi vektor penyakit.

Langkah modernisasi laboratorium menjadi sorotan utama setelah Barantin mengumumkan rencana investasi sebesar Rp5 triliun pada 23 April 2026. Program ini mencakup pembaruan peralatan PCR, sekuestrasi sampel, serta pelatihan teknisi laboratorium di seluruh provinsi. Dengan fasilitas yang lebih canggih, Barantin berharap dapat meningkatkan kecepatan dan akurasi deteksi patogen, sehingga respons cepat dapat diambil ketika ancaman muncul.

Kolaborasi dengan Kanada, yang diumumkan pada 20 April 2026, menandai langkah strategis Indonesia dalam memperkuat sistem keamanan pangan regional. Kedua negara akan berbagi best practice dalam surveilans penyakit hewan dan tumbuhan, serta mengembangkan platform digital untuk pertukaran data real‑time. Kerjasama ini diharapkan dapat menurunkan risiko masuknya hama dan patogen melalui jalur perdagangan internasional.

Baca juga:

Selain fokus pada keamanan, Barantin juga mengawasi sektor ekspor pertanian. Pada 18 April 2026, Barantin melaporkan volume ekspor durian beku ke China mencapai 4.077 ton sejak awal tahun. Pada minggu berikutnya, Barantin bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melepaskan 459 ton durian beku ke pasar China, dengan nilai pasar mencapai Rp42,5 miliar. Data ini menunjukkan peran penting Barantin dalam memfasilitasi prosedur karantina yang efisien, sehingga produk pertanian Indonesia dapat bersaing di pasar global.

Pengawasan ketat pada hewan kurban menjelang Idul Adha juga menjadi agenda utama. Pada 20 April 2026, Barantin mengintensifkan pemeriksaan hewan kurban di pelabuhan laut dan darat, serta menerapkan skema “tol laut” untuk meminimalisir penumpukan di pelabuhan tradisional. Upaya ini berhasil memastikan distribusi hewan kurban selesai sebelum hari raya, sekaligus menurunkan risiko penyebaran penyakit pada hewan ternak.

Dalam beberapa bulan terakhir, Barantin juga menanggapi ancaman penyakit menular seperti virus Nipah dan PPR. Pada 30 Januari 2026, Badan mengumumkan peningkatan pengawasan pada komoditas yang berpotensi membawa virus Nipah, terutama impor unggas dan buah-buahan dari India. Pada 15 Januari 2026, Barantin berhasil mencegah masuknya virus PPR dengan menolak impor domba tanpa sertifikasi kesehatan yang memadai.

Baca juga:

Abdul Kadir Karding, yang memiliki latar belakang legislatif dan pengalaman dalam kebijakan publik, menegaskan komitmennya untuk menjadikan Barantin lembaga yang transparan, akuntabel, dan responsif. Ia menambahkan, “Saya akan setia kepada Undang‑Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta menjalankan segala peraturan perundang‑undangan dengan selurus‑lurusnya, demi darmabakti saya kepada bangsa dan negara.”

Pelantikan ini juga disaksikan oleh pejabat tinggi lainnya, termasuk Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman dan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari, serta para menteri dan pimpinan lembaga negara. Upacara diakhiri dengan penandatanganan berita acara dan ucapan selamat dari Presiden Prabowo Subianto serta Wakil Presiden Gibran Rakabuming.

Dengan kepemimpinan baru, Badan Karantina Indonesia diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pengawasan, memperkuat jaringan kerja sama internasional, dan mendukung pertumbuhan ekspor produk pertanian Indonesia secara berkelanjutan.