Berita Pilihan

Trump Umumkan Perpanjangan Gencatan Senjata Israel-Lebanon Tiga Pekan di Gedung Putih

admin ·
Trump Umumkan Perpanjangan Gencatan Senjata Israel-Lebanon Tiga Pekan di Gedung Putih

Berita Pilihan 24 April 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Kamis (23/4/2026) mengumumkan bahwa kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon telah diperpanjang selama tiga pekan. Pengumuman tersebut disampaikan setelah pertemuan tingkat tinggi yang difasilitasi AS di Gedung Putih, di mana duta besar Israel untuk Washington, Yechiel Leiter, dan duta besar Lebanon untuk Amerika Serikat, Nada Moawad, duduk bersama dalam sebuah sesi di Ruang Oval.

Pertemuan kedua ini menandai lanjutan diskusi yang pertama kali dilakukan seminggu sebelumnya, setelah serangan udara Israel menewaskan lima orang di Lebanon, termasuk seorang jurnalis. Gencatan senjata yang sebelumnya mulai berlaku pada 16 April dan dijadwalkan berakhir pada 27 April kini mendapat perpanjangan hingga akhir pekan ketiga April, memberi ruang bagi kedua belah pihak untuk menegosiasikan langkah selanjutnya.

Baca juga:

Dalam rapat tersebut, selain Leiter dan Moawad, sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat turut hadir, antara lain Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, serta duta besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, dan duta besar AS untuk Lebanon, Michel Issa. Kedua duta besar menegaskan pentingnya menjaga stabilitas di perbatasan selatan Israel, sambil menyoroti tuntutan masing-masing pihak.

  • Posisi Israel: Duta Besar Israel menekankan bahwa perbincangan harus memusatkan upaya pada pemberantasan Hezbollah, bukan sekadar penarikan pasukan. Ia menegaskan bahwa jika kelompok bersenjata Iran‑affiliated terus beroperasi tanpa penindakan, proses perdamaian tidak akan tercapai.
  • Posisi Lebanon: Duta Besar Lebanon berterima kasih kepada Presiden Trump atas fasilitasi pertemuan dan menekankan agenda fase selanjutnya, yakni penarikan pasukan Israel, pemulangan warga Lebanon yang ditahan, serta penetapan batas darat yang jelas.
  • Reaksi Hezbollah: Kelompok militan yang tidak diundang dalam pembicaraan menyatakan bahwa mereka memiliki hak untuk melawan apa yang mereka sebut sebagai kekuatan pendudukan, sekaligus menolak segala bentuk kompromi tanpa jaminan keamanan.

Presiden Trump menyatakan bahwa pertemuan berjalan “sangat baik” dan menegaskan adanya peluang besar bagi Israel dan Lebanon untuk mencapai kesepakatan damai pada tahun ini. Ia juga mengusulkan agar menjadi tuan rumah bagi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun dalam pertemuan mendatang.

Meski gencatan senjata diperpanjang, situasi di wilayah selatan Lebanon tetap tegang. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa serangan udara Israel pada Kamis menewaskan tiga warga sipil dan melukai dua lainnya, termasuk seorang anak. Sementara itu, militer Israel mengklaim telah menewaskan dua orang bersenjata yang mendekati posisi mereka.

Baca juga:

Selain aspek militer, Presiden Trump juga menyoroti isu politik internal Lebanon, khususnya undang‑undang anti‑normalisasi yang melarang interaksi dengan Israel. Ia berjanji akan mendorong perubahan hukum tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan damai antara kedua negara.

Kesepakatan ini datang pada saat Amerika Serikat juga sedang berupaya menegosiasikan kembali perjanjian dengan Iran, dengan harapan dapat meredam ketegangan regional yang lebih luas. Jika berhasil, perpanjangan gencatan senjata ini dapat menjadi batu loncatan bagi proses diplomatik yang lebih komprehensif di Timur Tengah.

Namun, para pengamat memperingatkan bahwa tanpa langkah konkret untuk mengurangi kehadiran milisi Hezbollah dan mengatasi keluhan keamanan Israel, gencatan senjata ini berpotensi hanya menjadi jeda sementara. Kedua belah pihak diharapkan dapat memanfaatkan masa tiga pekan ini untuk membangun kepercayaan dan merumuskan solusi jangka panjang yang melibatkan penarikan pasukan, penetapan perbatasan, serta mekanisme keamanan bersama.

Baca juga:

Sejauh ini, perpanjangan gencatan senjata menandai salah satu upaya diplomatik paling signifikan sejak konflik pecah pada awal April 2026, dan menempatkan Amerika Serikat kembali pada posisi mediasi utama di kawasan yang selama ini dipenuhi ketegangan.