IHSG Melemah: Proyeksi Penurunan di Tengah Rupiah Terjun Rp 17.300 per Dolar
Berita Pilihan 24 April 2026 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak melemah pada pembukaan perdagangan Jumat, 24 April 2026, dengan target awal di sekitar level 7.308. Proyeksi ini muncul setelah IHSG semalam mencatat penurunan 163,006 poin atau 2,16 persen, menutup pada 7.378,606.
Analis dari Phintraco Sekuritas menilai bahwa indikator Stochastic RSI berada di area pivot yang mengarah ke bawah, menandakan potensi lanjutan pelemahan. “Stochastic RSI mengarah turun di area pivot. Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan dan menutup gap down di 7.308,” ungkapnya pada Jumat.
Sentimen pasar semakin tertekan akibat pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp 17.300 per dolar AS, kemudian berakhir pada Rp 17.286 di pasar spot. Analis Phintraco menyebut level tersebut sebagai penutupan terburuk bagi rupiah sepanjang masa dan merupakan pelemahan paling dalam di kawasan Asia.
Pelemahan rupiah yang terjadi secara cepat berada di luar estimasi pasar sebelumnya. Penutupan Selat Hormuz yang berlarut‑larut membuat harga minyak dunia tetap tinggi, menimbulkan kekhawatiran inflasi dan memperlebar defisit anggaran belanja pemerintah.
Berikut rekomendasi saham yang diajukan Phintraco Sekuritas untuk sesi perdagangan Jumat:
- BBTN
- ELSA
- INDY
- TSPC
- MYOR
Sementara MNC Sekuritas memperkirakan IHSG akan menguji kisaran koreksi 7.245‑7.354. “IHSG rawan bergerak terkoreksi dengan area koreksi terdekat diperkirakan akan menguji 7.245‑7.354 sekaligus menutup beberapa area gap‑nya,” tulis analis MNC Sekuritas.
Daftar saham yang direkomendasikan oleh MNC Sekuritas pada hari yang sama meliputi:
- ADRO
- INKP
- OASA
- WIFI
Para pengamat menekankan bahwa volatilitas tetap tinggi mengingat ketidakpastian kebijakan moneter dan fluktuasi nilai tukar. Investor disarankan untuk tetap memperhatikan likuiditas dan menghindari posisi yang terlalu terpusat pada sektor tertentu.
Secara keseluruhan, IHSG melemah dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal seperti harga minyak dan defisit fiskal, serta tekanan nilai tukar yang belum menunjukkan tanda‑tanda stabil. Pemantauan terus‑menerus terhadap data ekonomi dan kebijakan pemerintah akan menjadi kunci bagi pelaku pasar dalam menilai arah pergerakan indeks ke depan.