100 Rudal IRGC Gempur Pertahanan Canggih AS‑Israel, Pelindung Washington Runtuh
Berita Pilihan 24 April 2026 – Iranian Revolutionary Guard Corps (IRGC) melancarkan serangan masif dengan menembakkan seratus rudal presisi serta mengerahkan drone bawah air dan cepat ke jalur strategis Selat Hormuz. Operasi ini menargetkan instalasi pertahanan canggih yang dipasang oleh Amerika Serikat dan Israel di kawasan tersebut, sekaligus menguji kemampuan sistem pertahanan udara dan laut sekutu. Menurut laporan militer, drone-dronenya dapat beroperasi pada kedalaman hingga 200 meter, sementara kapal cepatnya menunggu di perairan untuk menembus formasi pertahanan lawan.
Kejadian ini memperparah krisis persediaan amunisi yang sudah dirasakan oleh Pentagon sejak konflik Iran‑Israel dimulai akhir Februari. Kementerian Pertahanan Amerika mengungkapkan bahwa stok rudal kritis seperti Joint Air-to‑Surface Standoff Missile‑Extended Range (JASSM‑ER) dan Tomahawk telah berkurang drastis. Sebanyak 1.100 unit JASSM‑ER dan lebih dari 1.000 unit Tomahawk telah diluncurkan, menghabiskan hampir setengah cadangan yang tersedia. Data internal menunjukkan bahwa persediaan JASSM‑ER kini tinggal sekitar 1.500 unit, sedangkan Tomahawk hampir habis.
- JASSM‑ER: 1.100 unit terpakai, sisa ~1.500 unit.
- Tomahawk: >1.000 unit terpakai, sisa sangat terbatas.
- Biaya operasi: diperkirakan $28‑35 miliar total, atau hampir $1 miliar per hari.
Penggunaan intensif ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang kesiapan militer AS untuk menghadapi skenario konflik lain, terutama dengan China di Laut China Selatan dan Rusia di Eropa Timur. Senator Jack Reed menegaskan bahwa pada tingkat produksi saat ini, pemulihan stok rudal dapat memakan waktu bertahun‑tahun. Sementara Gedung Putih belum mengumumkan angka resmi, dua lembaga independen memperkirakan total biaya hingga $35 miliar, dengan pengeluaran harian mencapai $1 miliar.
Strategi IRGC yang menggabungkan rudal balistik, drone presisi, dan kapal cepat menandai perubahan taktik perang modern. Drone bawah air yang dilengkapi sensor akustik mampu mengidentifikasi kapal permukaan dan meluncurkan muatan kecil yang dapat merusak sistem radar atau menimbulkan kebocoran bahan bakar. Kombinasi ini memaksa aliansi AS‑Israel untuk menyesuaikan protokol pertahanan, meningkatkan kehadiran kapal perusak, dan memperluas cakupan patroli udara.
Para analis militer memperingatkan bahwa kehabisan stok amunisi kritis dapat memperlemah posisi strategis Washington sebagai “pelindung” regional. Jika persediaan JASSM‑ER dan Tomahawk tidak segera dipulihkan, kemampuan untuk menanggapi serangan serupa di masa depan akan berkurang drastis. Sementara itu, Iran menegaskan bahwa operasi di Selat Hormuz hanyalah bagian dari upaya memperkuat posisi tawar di meja perundingan internasional, terutama menjelang gencatan senjata yang masih rapuh. Kondisi ini menuntut keputusan cepat dari Kongres Amerika untuk meningkatkan produksi senjata dan memperluas basis logistik di kawasan Timur Tengah.