Berita Pilihan

Serbuan Al-Aqsa: Pemukim Israel Gencarkan Bendera di Masjid Suci, Dunia Bereaksi

admin ·
Serbuan Al-Aqsa: Pemukim Israel Gencarkan Bendera di Masjid Suci, Dunia Bereaksi

Berita Pilihan 23 April 2026 – Pada Selasa, 21 April 2026, sekelompok pemukim Israel memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur melalui Gerbang Mughrabi. Mereka melakukannya di bawah pengawalan ketat kepolisian Israel, namun tanpa hambatan berarti. Sekelompok pria kemudian mengibarkan bendera berlukis bintang Daud di dalam area suci, sekaligus melakukan ritual keagamaan yang tampak jelas dalam rekaman video yang beredar luas di media sosial.

Masjid Al-Aqsa, yang merupakan situs suci ketiga bagi umat Islam, sekaligus dikenal oleh umat Yahudi sebagai Temple Mount, telah menjadi titik panas sengketa selama beberapa dekade. Sejak 2003, kepolisian Israel secara sepihak mengizinkan pemukim Yahudi masuk ke kompleks dua kali sehari, pada waktu shalat Subuh dan Ashar, kecuali pada hari Jumat dan Sabtu. Kebijakan ini telah menimbulkan ketegangan berulang, namun serbuan Al-Aqsa kali ini menambah dimensi provokatif karena dilakukan bersamaan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Israel dan sekaligus bertepatan dengan peringatan Nakba oleh warga Palestina.

Baca juga:

Video yang beredar menunjukkan para pemukim melakukan doa, termasuk aksi yang disebut “sujud epik” di area timur kompleks, dengan latar belakang Kubah Batu yang megah. Bendera yang dikibarkan menampilkan simbol Star of David, menimbulkan kemarahan warga Palestina yang menilai tindakan itu sebagai pelanggaran terhadap status quo yang telah diatur sejak tahun 1967 oleh perjanjian internasional.

Otoritas Wakaf Islam Yerusalem secara tegas menyatakan bahwa pengibaran bendera dan ritual tersebut melanggar status quo yang melindungi kebebasan beribadah bagi semua agama di lokasi tersebut. Mereka menuntut agar Israel menghentikan praktik serupa dan memastikan keamanan serta keutuhan situs suci.

Reaksi internasional pun cepat mengalir. Kementerian Luar Negeri Pakistan mengutuk aksi tersebut dengan kata-kata keras, menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan kesucian tempat suci. Pakistan menuntut agar komunitas internasional mengambil langkah konkret untuk melindungi Al-Aqsa dan mengakhiri impunitas pemukim ilegal. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Qatar menyampaikan kecaman serupa, menegaskan penolakan tegas terhadap upaya mengubah identitas atau status masjid tersebut, serta mendesak tindakan tegas dari dunia internasional.

Baca juga:
  • Pakistan: “Tindakan tercela ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional, serta terhadap kesucian dan kekebalan tempat suci tersebut.”
  • Qatar: “Kami menolak segala upaya yang mencoba mengubah identitas atau status Masjid Al-Aqsa, dan menyerukan tanggung jawab hukum serta moral dunia atas Yerusalem.”

Selain kecaman dari negara-negara Muslim, sejumlah organisasi hak asasi manusia juga mengkritik kebijakan Israel yang memungkinkan pemukim masuk ke area sensitif tanpa kontrol yang memadai. Mereka menyoroti bahwa tindakan serupa sebelumnya telah memicu bentrokan berdarah dan meningkatkan rasa tidak aman di antara warga Palestina.

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Tepi Barat, di mana penyebaran pemukiman baru dan pembatasan akses ke tempat ibadah semakin memperparah situasi. Penutupan sementara Masjid Al-Aqsa selama 40 hari pada awal April 2026 oleh otoritas Israel, yang kemudian dibuka kembali dengan pembatasan, menambah beban emosional bagi jamaah Muslim yang menantikan kesempatan beribadah di lokasi paling suci mereka.

Para analis politik menilai bahwa serbuan Al-Aqsa dapat dimotivasi oleh upaya memperkuat narasi nasionalis Israel menjelang Hari Kemerdekaan, sekaligus menguji batas toleransi internasional terhadap kebijakan Israel di Yerusalem. Mereka memperingatkan bahwa aksi serupa, bila tidak ditangani secara diplomatik, dapat memicu eskalasi lebih luas yang melibatkan kelompok militan di wilayah tersebut.

Baca juga:

Sejauh ini, tidak ada laporan resmi tentang cedera atau penahanan selama insiden tersebut, namun foto-foto yang tersebar menampilkan dua pemukim memegang bendera dekat Kubah Batu, simbol penting bagi umat Islam. Kejadian ini menegaskan kembali betapa sensitifnya status quo di situs suci, dan pentingnya dialog serta penegakan hukum yang adil untuk mencegah terulangnya provokasi serupa.

Dalam konteks geopolitik yang semakin kompleks, serbuan Al-Aqsa menambah daftar panjang insiden yang menuntut respons cepat dari komunitas internasional. Upaya mediasi, serta peninjauan kembali kebijakan akses ke situs suci, menjadi langkah krusial untuk menjaga perdamaian dan menghormati hak beribadah semua umat beragama.