Banjir Jakarta Membuat Ribuan Warga Terpental: Menguak Penyebab Sawangan, Taman Mangu, dan Jalan Ciledug
Berita Pilihan 05 Mei 2026 – Hujan deras yang melanda wilayah Jabodetabek pada Senin, 4 Mei 2026, memicu gelombang banjir yang meluas dari perbatasan Sawangan‑Cipayung hingga pusat kota Jakarta. Dengan intensitas tinggi, curah hujan menyebabkan aliran air meluap, menenggelamkan jalan, rumah, dan fasilitas publik, serta menimbulkan kerugian material yang signifikan.
Di perbatasan Sawangan‑Cipayung, penyebab utama banjir terungkap sebagai longsor gunungan sampah dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung yang menumpuk di aliran Kali Pesanggrahan. Sampah yang menumpuk hingga menghambat aliran menciptakan pendangkalan, sehingga air tidak dapat mengalir lancar dan berujung pada luapan yang melanda kawasan sekitar.
Wali Kota Depok, Supian Suri, menyaksikan langsung kondisi di lokasi. Ia menegaskan bahwa pemerintah kota bertekad membersihkan dan melebarkan aliran Kali Pesanggrahan serta menata kembali area TPA agar tidak kembali menimbulkan blokade serupa. Rencana pelebaran sungai dan penambahan pompa darurat menjadi prioritas dalam upaya mitigasi.
Data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menunjukkan ketinggian muka air di beberapa pintu air mencapai puluhan sentimeter. Berikut data pada pukul 21.00 WIB:
- Pos Depok: 180 cm
- Kali Manggarai BKB: 740 cm
- Pos Karet: 490 cm
- Pos Krukut Hulu: 170 cm
- Pos Pesanggrahan: 170 cm
Angka-angka tersebut menandakan tekanan tinggi pada sistem drainase kota, terutama di wilayah selatan dan barat.
Sementara itu, di Tangerang Selatan, kawasan perumahan Taman Mangu Indah di Kecamatan Pondok Aren mengalami penurunan nilai properti akibat banjir berulang yang dipicu oleh perubahan aliran Kali Ciputat. Warga melaporkan banyak rumah dipasang papan “Dijual” karena risiko genangan air yang mencapai ketinggian betis. Menurut penduduk setempat, pembangunan hulu yang tidak terkontrol meningkatkan volume limpasan ke Kali Ciputat, memperparah kondisi banjir.
Di Jakarta, Badan Penanggulangan Bencana Daerah mencatat 55 RT dan tiga ruas jalan terendam. Daerah terdampak meliputi Cilandak Timur, Lebak Bulus, Petogogogan, serta kelurahan Sukabumi Selatan dan Utara di Jakarta Barat. Ketinggian air bervariasi antara 30 hingga 120 cm, mempengaruhi arus lalu lintas dan menghambat layanan transportasi umum.
Jalan Ciledug Raya di Pesanggrahan menjadi contoh nyata dampak banjir terhadap mobilitas warga. Air setinggi 50 cm memaksa pengendara sepeda motor mematikan mesin dan mendorong kendaraan melewati genangan. Petugas PPSU, Krisna, menjelaskan bahwa selain curah hujan, aliran anak‑kali Pesanggrahan yang menerima limpasan dari hulu turut memperparah volume air. Jalan yang berada di cekungan alami memperlambat aliran, menyebabkan akumulasi air yang signifikan.
Pemerintah kota, bersama BPBD, Dinas Sumber Daya Air, dan Dinas Bina Marga, telah mengerahkan tim penyedot air, membersihkan sumbatan, dan memperbaiki jaringan pipa. Selain upaya fisik, otoritas mengimbau masyarakat untuk menggunakan rute alternatif, menghindari area rawan, dan melaporkan kondisi darurat melalui layanan 112.
Secara keseluruhan, serangkaian peristiwa banjir Jakarta dan sekitarnya menegaskan perlunya penanganan terpadu. Dari perbaikan infrastruktur, penataan sampah, hingga regulasi pembangunan di daerah aliran sungai, semua elemen harus bersinergi untuk mengurangi risiko banjir di masa depan. Dengan langkah‑langkah konkret, diharapkan warga dapat kembali menjalani aktivitas tanpa khawatir akan terjun kembali ke dalam genangan.