Hungaria Murka: Zelensky Ditekan Buka Pipa Druzhba, Risiko Krisis Energi Eropa Meningkat
Berita Pilihan 22 April 2026 – Ketegangan energi di Eropa kembali memanas setelah Perdana Menteri terpilih Hungaria, Péter Magyar, menuntut Ukraina membuka kembali aliran minyak melalui pipa Druzhba. Magyar menegaskan bahwa pasokan energi tidak boleh dijadikan alat tawar-menawar politik di tengah krisis regional yang sedang berlangsung.
Menurut pernyataan yang disampaikan melalui media Rusia RTVI, Magyar menyoroti pentingnya keberlanjutan suplai minyak bagi kebutuhan domestik Hungaria. “Ini bukan permainan. Jika pipa Druzhba layak untuk pengangkutan minyak, maka tolong bukalah seperti yang dijanjikan,” ujar Magyar. Ia juga menambah bahwa Rusia diharapkan segera memasok minyak sesuai kontrak, karena tanpa itu, seluruh sistem akan terhenti.
Pipa Druzhba, yang merupakan jaringan distribusi minyak terbesar di dunia, menghubungkan ladang minyak Rusia dengan sejumlah negara Eropa Tengah dan Timur melalui wilayah Ukraina. Bagi Hungaria, jalur ini adalah tulang punggung pasokan energi. Selama bertahun‑tahun, pipa ini menyediakan sebagian besar minyak mentah yang dibutuhkan negara tersebut.
Data resmi menunjukkan bahwa Hungaria mengonsumsi antara 140.000 hingga 160.000 barel minyak per hari. Dari total tersebut, sekitar 60‑65 persen dipasok melalui pipa Druzhba. Ketergantungan ini menjadikan setiap gangguan pada jalur tersebut berdampak langsung pada sektor industri, transportasi, hingga stabilitas harga energi dalam negeri.
- Konsumsi harian: 140.000‑160.000 barel
- Persentase pasokan via Druzhba: 60‑65%
- Negara penerima utama: Hungaria, Republik Ceko, Slovakia, Polandia
Perselisihan muncul ketika Ukraina menunda pengiriman minyak melalui pipa tersebut, mengklaim adanya masalah teknis dan keamanan. Ukraina, yang juga tengah berhadapan dengan invasi Rusia, menolak tekanan eksternal yang dianggap dapat mengganggu kedaulatan nasionalnya.
Menanggapi hal ini, Pemerintah Hungaria menegaskan bahwa stabilitas energi domestik tidak dapat dikorbankan demi pertimbangan politik. Magyar menambahkan bahwa gangguan pada pipa Druzhba dapat menekan sektor industri, memicu inflasi, dan menurunkan daya beli masyarakat. “Kami tidak dapat membiarkan harga energi melambung karena satu keputusan politik,” tegasnya.
Sementara itu, Zelensky menolak tuduhan bahwa Ukraina memanfaatkan energi sebagai senjata politik. Presiden Ukraina menegaskan bahwa keputusan teknis terkait pipa Druzhba didasarkan pada pertimbangan keamanan nasional dan upaya melindungi infrastruktur dari potensi serangan. “Kami tidak menginginkan eskalasi lebih lanjut,” kata Zelensky dalam sebuah konferensi pers.
Para analis energi menilai bahwa situasi ini menambah ketidakpastian pasar energi Eropa. Dengan pasokan minyak melalui pipa Druzhba berkurang, negara‑negara penerima dipaksa mencari alternatif, termasuk meningkatkan impor LNG atau mempercepat transisi ke energi terbarukan. Namun, transisi tersebut membutuhkan waktu dan investasi signifikan.
Dalam konteks geopolitik, tekanan Hungaria kepada Ukraina mencerminkan upaya negara‑negara Eropa Tengah untuk mengamankan pasokan energi tradisional sekaligus menyeimbangkan hubungan dengan Rusia. Sementara itu, Ukraina berupaya menjaga kedaulatan serta menghindari ketergantungan pada kebijakan luar negeri yang dapat memengaruhi kebijakan pertahanan.
Ke depannya, dialog antara Budapest, Kiev, dan Moskow diperkirakan akan menjadi kunci untuk menemukan solusi yang dapat mengakomodasi kepentingan semua pihak. Tanpa kesepakatan, risiko krisis energi yang lebih luas di Eropa tetap mengintai, menambah tekanan pada kebijakan energi dan keamanan regional.