Berita Pilihan

Fadly Alberto Dicoret Timnas U-20 Usai Tendangan Kungfu Kontroversial di EPA Bhayangkara FC

admin ·
Fadly Alberto Dicoret Timnas U-20 Usai Tendangan Kungfu Kontroversial di EPA Bhayangkara FC

Berita Pilihan 23 April 2026 – Rabu, 22 April 2026 – Insiden yang melibatkan pemain Bhayangkara FC U-20, Fadly Alberto, menjadi sorotan utama dunia sepak bola Indonesia setelah aksi tendangan menyerupai gerakan kungfu menimpa pemain Dewa United U-20 dalam laga Elite Pro Academy (EPA) di Stadion Citarum, Semarang. Aksi tersebut tidak hanya memicu kemarahan penonton dan netizen, tetapi juga menimbulkan konsekuensi disiplin berat bagi sang pemain muda.

Menurut keterangan resmi yang disampaikan oleh Ketua Badan Tim Nasional (BTN) Sumardji, keputusan pemotongan Fadly Alberto dari skuad Timnas Indonesia U-20 bersifat final. Sumardji menegaskan bahwa tindakan kekerasan dalam pertandingan tidak dapat dimaafkan, “apapun alasannya, tidak boleh ada kekerasan di lapangan.” Ia menambahkan bahwa insiden tersebut merupakan puncak dari rangkaian kejadian yang memicu emosi pemain, termasuk keputusan wasit yang dianggap tidak profesional dan dugaan teriakan bernada rasial dari bench lawan.

Baca juga:

Insiden terjadi pada Minggu (19/4) ketika Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20 menghadapi Dewa United U-20. Pada menit-menit akhir pertandingan, gol kontroversial yang seharusnya dianulir karena offside tetap diberi, menambah ketegangan. Setelah gol tersebut, terjadi protes kecil yang kemudian berkembang menjadi keributan. Fadly Alberto, yang saat itu sedang berada dalam keadaan emosional tinggi, melompat dan melayangkan tendangan tinggi ke arah pemain lawan, Rakha Nurkholis, yang mengakibatkan luka pada wajahnya.

Video aksi tersebut cepat menyebar di media sosial, menimbulkan kecaman luas dari publik dan tokoh sepak bola. Netizen menilai tindakan tersebut tidak sportif dan berbahaya, terutama dalam kompetisi usia muda seperti EPA. Sementara itu, pihak Bhayangkara FC menyampaikan permohonan maaf resmi kepada Dewa United dan menegaskan dukungan penuh kepada proses disiplin yang sedang berjalan.

Sumardji menambahkan bahwa selain pemotongan otomatis dari Timnas U-20, Fadly Alberto akan menghadapi sanksi dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI. “Sanksi tegas tetap harus dijatuhkan. Kami berharap pemain muda belajar dari insiden ini,” ujar Sumardji dalam konferensi pers. Keputusan pencoretan tersebut membuat peluang Fadly Alberto tampil di ajang penting seperti Piala AFF U-19 2026 dan Kualifikasi Piala Asia U-20 2027 menjadi hampir tidak ada.

Baca juga:

Meski begitu, Fadly Alberto tidak menghilang dari sorotan. Dalam wawancara terpisah, ia mengaku menyesal dan menganggap insiden sebagai pelajaran berharga. “Saya menyadari kesalahan saya, ini menjadi pengalaman yang tidak akan saya lupakan,” kata Fadly Alberto, yang berusia 17 tahun dan berasal dari Timika, Papua. Ia menegaskan tekadnya untuk tetap mengejar cita‑cita menjadi pemain profesional meski menghadapi rintangan berat.

Proses mediasi antara kedua klub juga berhasil digelar pada Rabu (22/4) di Dewa United Arena, Tangerang. Direktur Akademi Dewa United, Firman Utina, menyatakan bahwa mediasi berjalan damai, dengan kedua belah pihak saling memaafkan. “Anak‑anak ini adalah tanggung jawab bersama, kami tetap akan menindaklanjuti pelanggaran yang terjadi,” ujar Utina.

Pihak PSSI belum mengumumkan secara resmi jenis sanksi yang akan dijatuhkan, namun indikasi adanya hukuman berat telah disebutkan dalam beberapa laporan. Komdis diperkirakan akan mengevaluasi tidak hanya tindakan pemain, tetapi juga peran ofisial pertandingan yang dinilai kurang profesional.

Baca juga:

Kasus ini menimbulkan perdebatan tentang standar sportivitas dalam kompetisi usia muda di Indonesia. Banyak pihak mengajak agar federasi meningkatkan pelatihan mental pemain muda serta menegakkan aturan disiplin yang tegas. Sebagai langkah preventif, BTN berencana mengadakan workshop anti‑kekerasan dan pelatihan manajemen emosi bagi pemain U‑20 pada musim kompetisi berikutnya.

Secara keseluruhan, insiden yang melibatkan Fadly Alberto menjadi pelajaran penting bagi seluruh ekosistem sepak bola Indonesia. Dari sisi pemain, pelatih, hingga aparat pertandingan, semua diharapkan dapat menjaga integritas olahraga dan melindungi masa depan generasi muda.