Berita Pilihan

Kapal Gamsunoro di Selat Hormuz Tanpa Kru Indonesia, Semua ABK India – Penjelasan Pertamina

admin ·
Kapal Gamsunoro di Selat Hormuz Tanpa Kru Indonesia, Semua ABK India – Penjelasan Pertamina

Berita Pilihan 22 April 2026 – Seorang pelaut asal Indonesia yang tengah berada di kawasan Selat Hormuz melaporkan interaksi singkat dengan kru kapal tanker milik PT Pertamina (Persero) yang bernama Gamsunoro. Percakapan berbahasa Inggris itu mengungkap fakta mengejutkan: seluruh anggota kru (ABK) yang berada di atas kapal tersebut berwarga India, tanpa satu pun pelaut Indonesia.

“Dari mana kalian, dari India atau Indonesia?” tanya pelaut tersebut. Seorang anggota kru menjawab, “Kru India, pemiliknya orang Indonesia tapi krunya India.” Pertanyaan lanjutan menegaskan tidak adanya ABK Indonesia: “Oh jadi semua krunya dari India ya? tidak ada orang Indonesia di sana?” jawab kru dengan tegas, “Negatif, tidak ada orang Indonesia, semuanya India.”

Baca juga:

Latar Belakang Penahanan di Selat Hormuz

Insiden ini terjadi pada 21 April 2026, saat ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah meningkat. Kapal tanker Gamsunoro tertahan di Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menghubungkan Laut Arab dengan Teluk Persia. Penahanan tersebut memicu spekulasi di media sosial mengenai status kru dan operasional kapal.

Pernyataan Resmi Pertamina

Menanggapi spekulasi, Corporate Secretary PT Pertamina International Shipping (PIS), Vega Pita, memberikan klarifikasi resmi. Menurutnya, Kapal Gamsunoro saat ini berada dalam status sewa oleh pihak ketiga. Karena itu, pemilihan dan penempatan ABK mengikuti regulasi internasional serta standar operasional yang berlaku pada perusahaan penyewa.

Vega menegaskan bahwa PIS merupakan anak perusahaan PT Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang layanan kelautan dan logistik untuk pihak ketiga serta pasar internasional. Kapal Gamsunoro termasuk dalam armada yang melayani rute lintas benua, mencakup Asia, Eropa, Amerika, dan Afrika.

Baca juga:

Implikasi Bagi Industri Maritim Indonesia

Kasus ini menyoroti beberapa isu penting bagi industri maritim Indonesia. Pertama, keterbatasan tenaga kerja nasional pada kapal yang sedang disewakan kepada entitas asing dapat menyebabkan berkurangnya eksposur ABK Indonesia di jalur perdagangan strategis. Kedua, prosedur penyewaan kapal yang melibatkan pihak ketiga menuntut transparansi lebih tinggi agar publik tidak salah paham mengenai kepemilikan dan operasional kapal nasional.

Selain itu, pernyataan resmi Pertamina menegaskan bahwa semua kebijakan rekrutmen ABK mematuhi standar keselamatan dan kompetensi internasional, termasuk Sertifikasi STCW (Standards of Training, Certification, and Watchkeeping). Hal ini penting untuk menjaga reputasi Indonesia sebagai negara pelaut profesional.

Reaksi Publik dan Media Sosial

Berita mengenai keberadaan kru India di Kapal Gamsunoro cepat menyebar di platform media sosial. Banyak netizen yang mengekspresikan rasa syok sekaligus keprihatinan atas kurangnya representasi ABK Indonesia di kapal milik nasional. Beberapa komentar menuntut Pemerintah dan PT Pertamina meningkatkan program pelatihan dan penempatan ABK Indonesia pada kapal yang disewakan.

Baca juga:

Di sisi lain, analis industri menilai bahwa fenomena ini merupakan konsekuensi logistik alami dalam era globalisasi, di mana kapal sering kali dioperasikan oleh tim multinasional tergantung pada kontrak sewa.

Kesimpulan

Kejadian Kapal Gamsunoro yang tertahan di Selat Hormuz tanpa kru Indonesia menegaskan pentingnya transparansi dalam proses penyewaan kapal serta perlunya kebijakan yang mendukung peningkatan keterlibatan ABK nasional dalam operasi internasional. Sementara itu, Pertamina menegaskan bahwa penyewaan tersebut sesuai dengan regulasi dan standar operasional, serta menekankan komitmennya dalam menyediakan kesempatan kerja bagi pelaut Indonesia melalui program pelatihan dan sertifikasi yang kompetitif.