Aryna Sabalenka Buka Suara: Tak Akan Berhenti, Kritik Atap Roland Garros, dan Dampak Besar pada Peringkat WTA
Berita Pilihan 06 Juni 2026 – Aryna Sabalenka, petenis asal Belarus yang kini menduduki peringkat No.1 dunia, kembali menjadi sorotan utama setelah French Open 2026. Di tengah sorotan media, ia menegaskan secara tegas bahwa kariernya masih jauh dari kata selesai. Pernyataan itu muncul tak lama setelah ia mengalami kekalahan mengejutkan di perempat final melawan Diana Shnaider, pemain muda asal Rusia yang berhasil mengamuk di lapangan Philippe-Chatrier.
Sabalenka mengungkapkan rasa frustrasinya terhadap kebijakan penutupan atap yang dianggap tidak konsisten. Pada pertandingan melawan Shnaider, angin kencang berhembus dengan kecepatan mendekati batas yang diizinkan untuk menutup atap, namun wasit memilih membiarkannya terbuka. “Saya tidak mengerti mengapa atap tetap terbuka ketika angin sangat kencang. Padahal pada hari sebelumnya atap ditutup untuk pertandingan pria,” keluhnya dalam konferensi pers pasca pertandingan.
Keputusan tersebut, menurut Sabalenka, berkontribusi pada perubahan momentum yang drastis. Ia sempat memimpin dua set pertama (6-3, 4-1) sebelum Shnaider melakukan comeback luar biasa dengan memenangkan sepuluh game berturut‑turut, mengakhiri dominasi Sabalenka dan melaju ke semifinal. Kekecewaan itu tidak hanya memengaruhi hasil pertandingan, tetapi juga menimbulkan implikasi signifikan pada peringkat WTA.
Berikut rangkuman singkat perubahan poin peringkat setelah French Open 2026:
| Pemain | Poin Sebelum Roland Garros | Poin Setelah |
|---|---|---|
| Aryna Sabalenka | 9,960 | 9,090 |
| Elena Rybakina | 8,313 | 7,500 |
Sabalenka kehilangan 870 poin karena keluar di perempat final, sementara rival terdekatnya, Elena Rybakina, juga mengalami penurunan poin akibat keluar lebih awal. Meskipun selisih poin antara keduanya tetap cukup lebar, jarak tersebut menyusut menjadi 590 poin, menandakan persaingan yang semakin ketat di puncak peringkat dunia.
Selain isu teknis lapangan, Sabalenka juga menegaskan rencananya untuk terus berkompetisi di level tertinggi. Dalam sebuah wawancara singkat, ia mengatakan, “Saya masih sangat muda, masih banyak yang ingin saya capai, dan saya tidak akan berhenti bermain tenis.” Pernyataan ini menggarisbawahi tekadnya untuk menambah koleksi gelar Grand Slam, terutama di tanah liat yang selama ini menjadi tantangan tersendiri baginya.
Turnamen ini sendiri menjadi ajang penuh kejutan. Di sisi wanita, final akan mempertemukan qualifier asal Polandia, Maja Chwalinska, melawan Mirra Andreeva dari Rusia. Di sisi pria, Jannik Sinner, yang sebelumnya menjadi favorit, harus mengakui kegagalan lebih awal. Kejutan-kejutan tersebut menambah dinamika kompetisi dan menyoroti betapa tidak terduga dunia tenis pada musim ini.
Sabalenka juga menyoroti pentingnya kebijakan yang lebih transparan terkait penutupan atap. Ia mengutip dokumen resmi yang menyatakan bahwa atap dapat ditutup bila kecepatan angin melebihi 60 km/jam atau bila ada prakiraan hujan deras. Namun, dalam kasusnya, angin mencapai batas tersebut namun atap tetap terbuka, menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi penerapan aturan.
Dengan keputusan untuk tidak pensiun dan keinginan kuat memperbaiki kondisi kompetitif, Sabalenka diprediksi akan kembali ke lapangan dengan strategi baru. Timnya telah mengumumkan penyesuaian jadwal latihan, fokus pada adaptasi kondisi angin, dan penambahan sesi mental coaching untuk mengatasi tekanan besar di turnamen besar.
Secara keseluruhan, situasi Sabalenka pasca French Open 2026 mencerminkan kombinasi antara tantangan teknis, mental, dan persaingan ranking yang ketat. Meskipun mengalami kemunduran poin, ia tetap berada di puncak dunia tenis dan memiliki peluang besar untuk kembali menaklukkan gelar Grand Slam di musim-musim mendatang.