Makan Tabungan: Kisah di Balik Pertumbuhan Ekonomi yang Tidak Terasa
Berita Pilihan 13 Mei 2026 – Setiap pagi, sebelum berangkat kerja, Rini memeriksa dompetnya dua kali. Bukan karena ia miskin, tetapi karena ia ingin memastikan bahwa ia memiliki cukup uang untuk hari itu. Rini bukanlah satu-satunya orang yang melakukan ini, banyak orang lain juga melakukan hal yang sama. Mereka semua memiliki satu kesamaan, yaitu mereka semua merasa bahwa pertumbuhan ekonomi yang sedang terjadi tidak terasa di kantong mereka.
Sucipto, seorang tukang parkir, memiliki penghasilan rata-rata Rp 50 ribu per hari. Ia juga bekerja sebagai penjaga malam di perumahan pemda dengan upah Rp 900 ribu per bulan. Meskipun demikian, ia masih bisa menabung dan akhirnya berhasil berangkat ke Tanah Suci. Ia membuktikan bahwa dengan disiplin dan tekad, seseorang dapat mencapai tujuannya.
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) juga merasakan dampak dari program pemerintah. Mereka memiliki bisnis bullion bank, penyaluran kredit usaha rakyat (KUR), dan pembiayaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). BSI juga berpartisipasi dalam penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah dengan alokasi mencapai sekitar Rp 10 triliun.
Namun, tidak semua orang merasakan dampak positif dari pertumbuhan ekonomi. Pedagang kecil di sekitar kantor pemerintah mulai merasakan dampak negatif dari kebijakan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Mereka harus mengurangi stok makanan dan minuman karena berkurangnya pembeli. Beberapa pedagang bahkan harus mengurangi gaji pegawai mereka.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang sedang terjadi tidak merata. Beberapa orang masih merasakan dampak negatif dari kebijakan pemerintah, sementara yang lain dapat merasakan dampak positif. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi dan perbaikan kebijakan untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.