Berita Pilihan

Rompi Siraman El: Simbolisme Kerajaan Inggris dalam Tradisi Nusantara

admin ·
Rompi Siraman El: Simbolisme Kerajaan Inggris dalam Tradisi Nusantara

Berita Pilihan 02 Mei 2026 – Dalam rangkaian acara siraman yang berlangsung di sebuah vila klasik di Jakarta, penonton dimanjakan dengan penampilan visual yang memukau. Salah satu sorotan utama adalah rompi siraman yang dikenakan oleh El, sosok figur utama dalam pertunjukan tersebut. Rompi berwarna krem dengan bordir emas tidak hanya menambah keanggunan, melainkan juga menyimpan makna budaya yang mendalam, menggabungkan tradisi Indonesia dengan inspirasi visual dari kerajaan Inggris.

Desain rompi ini dirancang oleh tim kostum yang dipimpin oleh perancang ternama yang sebelumnya dikenal lewat karya-karya dalam drama Korea “Perfect Crown”. Pendekatan mereka menekankan riset historis yang mendetail serta kemampuan menginterpretasi kembali simbol-simbol klasik menjadi elemen modern yang relevan dengan konteks lokal. Seperti yang pernah dijelaskan oleh perancang tersebut, proses kreatif melibatkan studi tentang pakaian tradisional, bahan tekstil, serta referensi visual dari era monarki Eropa, khususnya Inggris pada abad ke-19.

Baca juga:

Berikut ini adalah beberapa elemen utama yang menjadi dasar penciptaan rompi siraman El:

  • Bordir Emas dengan Motif Mahkota: Motif ini terinspirasi dari mahkota kerajaan Inggris, melambangkan otoritas dan keagungan. Penggunaan warna emas menegaskan nilai simbolik yang tinggi.
  • Potongan Siluet Tradisional: Rompi dirancang dengan siluet yang mengingatkan pada pakaian tradisional Jawa, yaitu bentuk yang pas di tubuh namun tetap memberikan kebebasan gerak saat proses siraman.
  • Material Katun Premium: Memilih katun berkualitas tinggi memastikan kenyamanan pemakainya, mengingat siraman melibatkan percikan air dan suhu ruangan yang hangat.
  • Detail Pita Satin: Pita berwarna biru tua melambangkan langit Inggris, sekaligus menambah dimensi visual pada pakaian.

Penggabungan unsur-unsur tersebut menciptakan sebuah simbolisasi ganda: di satu sisi, rompi siraman tetap menghormati tradisi bersuci yang sarat nilai spiritual bagi masyarakat Indonesia; di sisi lain, ia menampilkan estetika aristokratis yang diadopsi dari kerabat kerajaan Inggris, mengisyaratkan sebuah dialog lintas budaya. Fenomena ini tidak lepas dari tren globalisasi fashion, di mana desainer semakin sering menggabungkan elemen tradisional dengan gaya barat untuk menghasilkan karya yang universal namun tetap berakar pada identitas lokal.

Selain aspek estetika, rompi ini juga menjadi medium naratif dalam pertunjukan. Selama siraman, El memegang sebuah cawan berlapis perak yang juga dihiasi motif mahkota. Gerakan elegan yang dipadukan dengan alunan gamelan menegaskan keterkaitan antara ritual bersuci dan simbol kekuasaan. Penonton dapat merasakan bahwa proses siraman tidak sekadar ritual kebersihan, melainkan juga proses transformasi diri, seolah‑olah menyiapkan diri untuk memasuki “tahta” kehidupan yang lebih bermakna.

Baca juga:

Kemiripan dengan kostum “Perfect Crown” terletak pada cara perancang menyeimbangkan keaslian budaya dengan inovasi desain. Di drama tersebut, hanbok dipadukan dengan sentuhan kontemporer yang menonjolkan keanggunan sekaligus relevansi masa kini. Begitu pula dengan rompi siraman El, yang memadukan kehalusan tradisi Indonesia dengan kilau aristokrasi Inggris, menjadikannya pakaian yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga kaya akan cerita.

Pengaruh kerajaan Inggris dalam fashion Indonesia memang bukan hal baru. Sejak era kolonial, elemen pakaian Barat telah meresap ke dalam busana tradisional, menghasilkan variasi seperti kebaya brokat dengan aksen renda Eropa atau batik bermotif bunga mawar Inggris. Namun, apa yang membuat rompi siraman El menonjol adalah niat sadar untuk menampilkan simbolisme kerajaan Inggris sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai estetika dan sejarah, bukan sekadar peniruan.

Secara keseluruhan, rompi siraman yang dipakai El menjadi contoh nyata bagaimana kostum dapat berfungsi sebagai jembatan budaya, menghubungkan tradisi lokal dengan inspirasi internasional. Keberhasilan desain ini terletak pada riset mendalam, kreativitas yang menghargai warisan, serta kemampuan mengkomunikasikan pesan visual yang kuat kepada audiens. Dalam era di mana identitas budaya semakin terjalin dengan globalisasi, karya semacam ini mengajarkan kita bahwa kolaborasi lintas budaya dapat menghasilkan keindahan yang memikat sekaligus memperkaya makna tradisi.

Baca juga:

Dengan demikian, rompi siraman El tidak hanya sekadar pakaian, melainkan sebuah narasi visual yang mengajak penonton merenungkan hubungan antara ritual bersuci, simbol kekuasaan, dan pengaruh sejarah kerajaan Inggris dalam konteks modern Indonesia.