Hampiri si Anak Maluku! Pep Guardiola Mengaku Ingin Membunuhnya Usai Manchester City Cetak Gol di FA Cup
Berita Pilihan 27 April 2026 – Manchester City kembali mengukir sejarah dengan melaju ke final Piala FA 2026 setelah mengalahkan Southampton 2-1 dalam laga semifinal di Stadion Wembley pada 25 April 2026. Kemenangan dramatis itu tidak hanya mempertegas dominasi The Citizens di kompetisi domestik, tetapi juga memicu insiden tak terduga yang melibatkan seorang anak pendukung asal Maluku.
Babak pertama berlangsung seimbang, dengan Southampton membuka skor melalui Finn Azaz pada menit ke-79. Sorak sorai penonton di tribun menambah tekanan pada City, namun tiga menit kemudian Jeremy Doku berhasil menyamakan kedudukan. Momentum beralih ke City ketika Nico González menambah gol pada menit ke-87, memastikan kemenangan 2-1 dan tiket ke final.
Setelah gol penentu, seorang anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun yang mengenakan kaos merah City berlari mendekati lapangan. Ia berteriak kegirangan dan melambai ke arah pelatih sekaligus pemain. Pep Guardiola, yang biasanya tenang, tampak terkejut. Dalam wawancara singkat dengan wartawan, ia melontarkan komentar yang menggugah, “Saya hampir ingin membunuhnya karena dia terlalu dekat, tapi itu hanya candaan. Kami harus tetap fokus pada pertandingan selanjutnya.”
Guardiola menegaskan bahwa meskipun gol tersebut penting, timnya tidak boleh teralihkan oleh kegembiraan penonton. Ia menambah, “Kami harus menjaga disiplin, tidak ada ruang bagi gangguan eksternal, apapun itu. Anak itu memang antusias, tetapi kami harus tetap profesional.”
Keberhasilan City di semifinal menandai pencapaian luar biasa: empat kali berturut-turut mencapai partai final Piala FA, sebuah rekor yang belum pernah tercapai oleh klub manapun di Inggris. Guardiola mengakui prestasi ini sebagai bukti kerja keras seluruh skuad. “Tidak ada tim yang pernah mencapai empat final berurutan. Ini luar biasa dan kami berharap dapat melanjutkan momentum ini ke final,” ujarnya.
Meski begitu, pelatih asal Spanyol itu tetap realistis mengenai peluang meraih treble domestik. Ia menilai bahwa mengamankan tiga trofi (Liga Premier, Piala Liga, dan Piala FA) masih “jauh” dari jangkauan. “Kami belum bisa berbicara tentang treble. Fokus kami adalah menyelesaikan setiap pertandingan dengan konsistensi,” tegas Guardiola.
Statistik pertandingan menunjukkan bahwa City menguasai 58% penguasaan bola, menciptakan 14 peluang, namun hanya menyelesaikannya dengan dua gol. Southampton, di sisi lain, menampilkan pertahanan yang rapat dan berhasil menahan serangan City pada beberapa kesempatan kritis. Keputusan taktis Guardiola pada menit ke-82, menggantikan Phil Foden dengan Jeremy Doku, terbukti krusial karena Doku berhasil menyeimbangkan skor.
Berikut rangkuman statistik utama:
- Penguasaan bola: Manchester City 58% – Southampton 42%
- Shots on target: City 7 – Southampton 4
- Kartu kuning: City 2, Southampton 1
- Gol: City (Doku 82′, González 87′) – Southampton (Azaz 79′)
Menjelang final, City dijadwalkan bertemu dengan tim yang belum disebutkan secara resmi, namun diprediksi kuat. Guardiola menekankan pentingnya menjaga kebugaran pemain mengingat jadwal yang padat: lima laga tersisa sebelum final, termasuk pertandingan melawan Aston Villa.
Di luar lapangan, insiden anak Maluku menjadi perbincangan media sosial. Banyak netizen mengkritik komentar Guardiola yang terkesan berlebihan, sementara yang lain memuji keberaniannya menyuarakan ketegasan. Namun, mayoritas sepakat bahwa kejadian tersebut menambah warna dramatis pada perjalanan City menuju gelar.
Dengan mentalitas tinggi, kedalaman skuad, dan dukungan fanatik, Manchester City tampak siap menantang lawan di final. Jika mereka berhasil meraih kemenangan, mereka akan menambah satu trofi lagi ke dalam koleksi yang sudah mengesankan, sekaligus menegaskan dominasinya di sepakbola Inggris.