Kai Havertz Cetak Sejarah di Final UCL 2025/2026, Meski Arsenal Gagal Juara
Berita Pilihan 02 Juni 2026 – Arsenal mengalami kekecewaan pahit di final UEFA Champions League 2025/2026 setelah kalah dari Paris Saint-Germain (PSG) lewat adu penalti di Puskás Arena, Budapest. Namun, momen itu tetap dikenang karena Kai Havertz, gelandang serang asal Jerman, berhasil membuka skor hanya dalam enam menit pertama pertandingan, memberi Arsenal keunggulan awal yang kemudian sirna.
Gol cepat Havertz datang setelah ia menerima umpan rebound dari sapuan Marquinhos yang mengenai Leandro Trossard. Havertz menembak bola keras dari dalam kotak penalti, menaklukkan kiper PSG, Gianluigi Donnarumma, dan menempatkan Arsenal 1-0. Sayangnya, keunggulan itu tidak bertahan lama. Pada menit ke-65, PSG memperoleh penalti setelah Cristian Mosquera menjatuhkan Khicha Kvaratskhelia. Ousmane Dembélé mengeksekusi tendangan tersebut, menyamakan kedudukan dan memaksa pertandingan masuk ke perpanjangan waktu, lalu ke adu penalti.
Di babak penalti, Arsenal gagal mengeksekusi dua tembakan penting dari Eberechi Eze dan Gabriel Magalhães, sementara PSG mengeksekusi semua lima tembakan mereka. Kekalahan ini menutup harapan Arsenal meraih double domestik dan Eropa setelah sebelumnya mengukir gelar Premier League pertama dalam 22 tahun.
Keberhasilan Havertz mencetak gol di final bukanlah kebetulan. Pada edisi 2020/2021, ia menjadi pahlawan Chelsea dengan gol tunggal melawan Manchester City, memastikan kemenangan 1-0. Dengan dua gol final yang masing-masing dicetak untuk dua klub berbeda, Havertz bergabung dalam kelompok eksklusif pemain yang pernah melakukannya.
Berikut daftar pemain yang mencetak gol di final UCL bersama dua klub berbeda:
- Kai Havertz – Chelsea (2020/2021) dan Arsenal (2025/2026)
- Cristiano Ronaldo – Manchester United (2007/2008) dan Real Madrid (2013/2014, 2014/2015)
- Mario Mandžukić – Bayern Munich (2012/2013) dan Juventus (2016/2017)
- Velibor Vasović – Partizan (1965/1966) dan Ajax (1970/1971)
Prestasi ini menambah catatan historis bagi Havertz, yang kini menjadi pemain keempat yang mencetak gol di final Liga Champions bersama dua klub berbeda. Ia menempati posisi istimewa bersama legenda seperti Ronaldo, Mandžukić, dan Vasović.
Sementara itu, Declan Rice, gelandang tengah Arsenal, mengungkapkan tekad tim untuk kembali lebih kuat pada musim berikutnya. Dalam pidato singkatnya setelah perayaan Premier League di Islington, Rice menegaskan, “Next year we’re coming back for more. Lock in or get locked out,” menandakan semangat juang yang masih tinggi meski kegagalan di panggung Eropa.
Rekor gol tercepat di final UCL juga menjadi sorotan. Gol Havertz pada menit keenam tidak masuk dalam daftar tujuh gol tercepat yang tercatat sejak kompetisi dimulai pada 1955. Rekor tersebut dipegang oleh Paolo Maldini, yang mencetak gol pada detik ke-52 di final 2004/2005 antara AC Milan dan Liverpool. Daftar gol tercepat meliputi pemain seperti Dick van Dijk, Johnny Rep, Ivan Rakitić, Gaizka Mendieta, Mohamed Salah, Enrique Mateos, dan tentu saja Maldini.
Meski Arsenal tidak berhasil mengangkat trofi, penampilan Havertz menegaskan kualitasnya di level tertinggi. Gol awalnya memberi harapan, dan sejarah mencatat namanya bersama pemain-pemain elit yang telah menorehkan jejak di final Liga Champions dengan dua klub berbeda. Dengan tekad Arsenal yang dipicu oleh kata-kata Rice, serta pengalaman berharga yang didapatkan dari final ini, klub dan pemainnya diharapkan kembali lebih kuat di kompetisi Eropa berikutnya.
Secara keseluruhan, final 2025/2026 menambah babak penting dalam karier Kai Havertz dan menegaskan posisinya dalam sejarah sepak bola Eropa, sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi Arsenal untuk bangkit kembali.