Berita Pilihan

Baterai Listrik: Tantangan Jarak Tempuh, Penyimpanan Energi Global, dan Upaya Indonesia Menguatkan Rantai Pasok

admin ·
Baterai Listrik: Tantangan Jarak Tempuh, Penyimpanan Energi Global, dan Upaya Indonesia Menguatkan Rantai Pasok

Berita Pilihan 29 Mei 2026 – Penggunaan mobil listrik terus meningkat di seluruh dunia, namun performa baterai masih menjadi faktor penentu adopsi massal. Pada suhu tinggi, sistem pendingin kabin (AC) menyerap daya signifikan setelah motor penggerak, menurunkan efisiensi hingga 17 persen ketika suhu lingkungan melampaui 29°C. Penurunan ini terasa nyata pada suhu 27°C dengan rata‑rata pengurangan jarak tempuh 2,8 persen, sementara pada 35°C penurunan dapat mencapai 17 persen. Pengemudi disarankan memanfaatkan fitur pre‑conditioning saat mobil sedang diisi daya dan memarkir kendaraan di tempat teduh untuk meminimalkan konsumsi energi.

Sementara itu, di Eropa, surplus energi terbarukan pada siang hari sering kali melampaui kebutuhan jaringan. Kekurangan kapasitas penyimpanan baterai mengakibatkan listrik berlebih harus dibuang atau digantikan oleh pembangkit gas alam pada malam hari. Pada 2026, total kapasitas penyimpanan berskala besar di Uni Eropa hanya sekitar 14 GW, jauh di bawah target 750 GW yang diperlukan untuk mencapai netralitas iklim 2050. Penurunan biaya baterai lithium‑ion—sekitar 20 % per tahun—memberi harapan, namun skala investasi masih belum cukup untuk menutup kesenjangan.

Baca juga:

Di Indonesia, pemerintah lewat Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya memperkuat rantai pasok kendaraan listrik (KBLBB) dengan melibatkan industri kecil dan menengah (IKM). Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa potensi sumber daya alam, pasar domestik, dan kebijakan pemerintah (PP No. 55/2019) menjadi landasan strategis. Pada 22 Mei 2026, Kemenperin menggelar acara penjajakan peluang bisnis IKM alat angkut di Cikarang, mengundang pelaku IKM, pemerintah daerah, asosiasi, serta produsen otomotif besar. Kegiatan ini menekankan pentingnya pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta transfer teknologi antar pelaku industri.

Produsen baterai terbesar dunia, CATL, turut memperkuat posisi globalnya. Pada 2026, CATL memulai produksi baterai EV untuk pasar Eropa dan Amerika Serikat, sekaligus meluncurkan Xiamen Energy Storage Validation Research Institute (ESVL), fasilitas uji penyimpanan energi terbesar di dunia. ESVL seluas 10 hektar ini menyediakan lima laboratorium inti untuk validasi stasiun penyimpanan skala besar, memastikan keamanan, kemampuan dukungan jaringan, dan keandalan jangka panjang. Dengan investasi sekitar 3 miliar yuan, CATL menargetkan peningkatan pangsa pasar baterai daya menjadi 47 % dan penyimpanan energi 30,4 % pada 2025.

Baca juga:

Berbagai upaya tersebut saling melengkapi dalam ekosistem baterai listrik. Untuk mengurangi dampak AC pada mobil listrik, produsen kini mengembangkan sistem pendingin yang lebih efisien, termasuk pompa panas dan teknologi refrigeran rendah energi. Di sisi penyimpanan energi, proyek‑proyek besar di Eropa dan Asia menambah kapasitas baterai grid‑scale, mempercepat integrasi energi surya dan angin. Di dalam negeri, kolaborasi Kemenperin dengan IKM membuka peluang produksi komponen seperti modul baterai, sistem manajemen baterai (BMS), dan rangka kendaraan, yang pada gilirannya dapat menurunkan biaya produksi dan meningkatkan kemandirian.

Berikut beberapa langkah praktis bagi pemilik mobil listrik untuk mengoptimalkan penggunaan baterai:

Baca juga:
  • Aktifkan pre‑conditioning saat kendaraan terhubung ke charger, sehingga kabin sudah sejuk sebelum perjalanan.
  • Parkir di tempat teduh atau gunakan penutup kendaraan untuk mengurangi pemanasan langsung.
  • Gunakan mode eco atau climate control zone bila tersedia, mengurangi beban kompresor AC.
  • Hindari penggunaan heater berbasis resistansi pada cuaca dingin; pilih sistem pompa panas bila memungkinkan.
  • Rencanakan rute perjalanan dan manfaatkan stasiun pengisian cepat yang berada di area dengan suhu moderat.

Secara keseluruhan, tantangan baterai listrik meliputi penurunan jarak tempuh akibat suhu tinggi, keterbatasan penyimpanan energi terbarukan, serta kebutuhan akan rantai pasok domestik yang kuat. Upaya kolaboratif antara pemerintah, produsen global seperti CATL, dan pelaku industri kecil menengah Indonesia menjadi kunci untuk mengatasi hambatan tersebut. Dengan inovasi teknologi, kebijakan yang mendukung, dan investasi pada infrastruktur penyimpanan, baterai listrik dapat menjadi tulang punggung mobilitas berkelanjutan di masa depan.