World Cup tiket melambung: Mengapa Harga Menggila dan Apa Dampaknya bagi Penonton?
Berita Pilihan 07 Mei 2026 – Harga tiket World Cup 2026 memicu perdebatan sengit di antara penggemar, pejabat, dan pemerintah Amerika Serikat. Pada konferensi Milken Institute di Beverly Hills, Presiden FIFA Gianni Infantino membela kebijakan harga dengan menyatakan bahwa pasar Amerika yang terbuka untuk penjualan kembali (resale) menuntut tarif yang lebih tinggi. Ia menegaskan, “Kami berada di pasar hiburan paling berkembang di dunia, sehingga harus menerapkan tarif pasar.”
Menurut data resmi FIFA, tiket untuk pertandingan pembukaan tim Amerika melawan Paraguay pada 12 Juni dibanderol mulai US$1.000. Harga ini melonjak drastis pada fase knockout, hingga beberapa ribu dolar per kursi. Di pasar sekunder, spekulan menawar hingga US$2,2 juta untuk empat kursi final yang dijadwalkan di MetLife Stadium, New Jersey, pada 19 Juli.
Infantino menuding praktik reseller sebagai faktor utama kenaikan harga. Namun, kritik menilai pernyataan tersebut sebagai upaya mengalihkan sorotan dari kebijakan internal FIFA yang menambah margin 30% pada setiap penjualan melalui platform resmi. Selain itu, pemerintah Amerika menanggung biaya keamanan yang signifikan. Kongres AS menyetujui dana sebesar US$625 juta yang dikelola FEMA untuk 11 kota tuan rumah, mencakup lembur polisi, respons darurat, dan perlindungan siber.
- FIFA mengelola lebih dari 500 juta permintaan tiket.
- Margin resmi FIFA: 30% dari penjualan tiket.
- Biaya keamanan federal: US$625 juta.
Keputusan keamanan ini menempatkan Secret Service sebagai agensi utama, mengingat World Cup dianggap sebagai National Special Security Event. Dampaknya, sebagian besar beban biaya jatuh pada pembayar pajak Amerika, meski sebagian biaya operasional tetap ditanggung oleh kota tuan rumah.
Sementara itu, federasi sepakbola Iran menuntut jaminan khusus dari FIFA sebelum mengirimkan timnya ke turnamen. Iran mengkhawatirkan keamanan dan kebijakan imigrasi di Amerika, serta menuntut perlindungan terhadap pemain dan stafnya selama kompetisi. Permintaan ini menambah tekanan pada FIFA untuk menyeimbangkan kepentingan politik dan komersial.
Berita lain yang muncul menyebutkan kemungkinan penjualan tiket tambahan menjelang fase grup. Namun, permintaan yang melimpah dan mekanisme penjualan yang terbatas membuat banyak penggemar kecewa. Kritik menilai FIFA belum memberikan solusi yang adil untuk mengatasi spekulasi harga dan aksesibilitas bagi penggemar dari kelas menengah.
Dalam konteks ekonomi, tingginya harga tiket World Cup menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan model komersial FIFA. Bila harga tiket terus melambung, risiko penurunan kehadiran fisik dan peningkatan penonton melalui platform digital akan semakin besar. Hal ini juga dapat memicu regulasi lebih ketat dari otoritas antitrust di Amerika dan Uni Eropa.
Secara keseluruhan, dinamika harga World Cup tiket mencerminkan ketegangan antara komersialisasi olahraga global dan harapan publik akan akses yang adil. Kebijakan FIFA, peran pasar sekunder, serta beban keamanan publik menjadi faktor kunci yang akan menentukan bagaimana turnamen ini dipersepsikan oleh generasi penggemar selanjutnya.