Erin Ungkap Bukti CCTV 14 Video, ART Dituduh Pelanggaran Privasi
Berita Pilihan 07 Mei 2026 – Jakarta, 6 Mei 2026 – Mantan istri Andre Taulany, Rien Wartia Trigina yang lebih dikenal dengan nama Erin, membuka konferensi pers di kawasan Senayan untuk membantah tuduhan penganiayaan terhadap asisten rumah tangga (ART) miliknya. Erin menegaskan bahwa ia memiliki bukti CCTV sebanyak empat belas video yang memperlihatkan perilaku ART secara detail, sekaligus menyoroti pelanggaran privasi yang dianggapnya jauh lebih serius.
Erin menyampaikan bahwa seluruh rekaman diambil dari jaringan kamera CCTV yang terpasang di setiap sudut rumah, termasuk ruang tamu, dapur, kamar tidur, kolam renang, hingga garasi. “Saya memiliki bukti CCTV yang jelas, total ada 14 video. Semua video tersebut siap dijadikan bahan pertimbangan dalam proses hukum jika diperlukan,” ujarnya dengan tegas.
Berikut beberapa temuan penting yang diungkapkan melalui bukti CCTV tersebut:
- ART secara berulang kali merekam aktivitas anak-anak tanpa izin, termasuk momen mereka bermain, belajar, hingga saat mereka berada di kamar pribadi.
- Beberapa video menunjukkan ART memasuki kamar tidur anak perempuan, mengambil foto pakaian, dan bahkan mengenakan pakaian tersebut tanpa persetujuan orang tua.
- Rekaman juga memperlihatkan ART memotret kendaraan keluarga beserta nomor plat secara detail, yang kemudian diduga akan dijadikan konten media sosial pribadi.
- Dalam satu segmen video, ART terlihat mengabaikan pekerjaan rumah seperti mencuci pakaian dan seprai. Baju dan seprai ditumpuk selama lebih dari dua minggu tanpa diselesaikan, menimbulkan keluhan serius dari Erin.
Erin menambahkan bahwa pelanggaran tersebut tidak hanya bersifat teknis, melainkan menimbulkan dampak psikologis pada anak-anaknya. Putra tertuanya, Kenzy, bahkan marah ketika mengetahui kamar pribadinya telah direkam secara diam‑diam dan diposting di platform media sosial. “Anak saya sangat terganggu, dia bertanya kenapa kameranya masuk ke dalam privasinya,” ujar Erin sambil mengutip percakapan yang terjadi.
Selain aspek privasi, Erin menegaskan bahwa ia tidak pernah melakukan tindakan penganiayaan fisik terhadap ART. Ia menyebutkan bahwa tuduhan tersebut merupakan fitnah yang dilontarkan oleh pihak penyalur ART setelah terjadi perselisihan mengenai gaji dan kinerja. “Tidak ada penganiayaan sama sekali. Saya justru menjadi korban fitnah,” tegasnya.
Dalam konferensi pers, Erin juga mengungkapkan bahwa ART tersebut hanya bekerja selama tiga minggu sebelum memutuskan pergi secara sepihak pada malam hari tanpa sepengetahuan keluarga. Kepergian tersebut terjadi setelah Erin mengajukan komplain resmi kepada yayasan penyalur mengenai perilaku ART.
Pengacara keluarga, Ery Kertanegara, menegaskan bahwa langkah hukum yang diambil Erin merupakan upaya melindungi hak privasi dan nama baik keluarga. “Setiap tindakan perekaman tanpa izin adalah pelanggaran hukum. Kami akan menuntut ganti rugi dan meminta pertanggungjawaban atas kerusakan moral yang ditimbulkan,” ujarnya.
Kasus ini menarik perhatian publik luas, terutama karena melibatkan figur publik seperti Andre Taulany dan keluarganya. Media sosial ramai dengan komentar yang beragam, mulai dari dukungan terhadap Erin hingga skeptisisme terhadap semua pihak. Namun, Erin menegaskan bahwa proses hukum akan berjalan berdasarkan fakta yang tertera dalam bukti CCTV, bukan rumor atau spekulasi.
Sejumlah saksi lain, termasuk tetangga yang mengamati kegiatan harian keluarga, juga memberikan kesaksian bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasan di rumah tersebut. Mereka menyebut bahwa Erin selalu menjaga lingkungan rumah tetap tenang dan teratur.
Ke depan, Erin berjanji akan terus bekerja sama dengan aparat kepolisian dan lembaga hukum untuk memastikan semua bukti terungkap secara transparan. Ia berharap kasus ini menjadi pelajaran penting bagi pemberi kerja ART dan keluarga untuk lebih memperhatikan hak privasi serta standar kerja yang jelas.
Dengan bukti CCTV yang telah dikumpulkan, proses penyelidikan diperkirakan akan memasuki tahap verifikasi teknis dan legal. Pihak berwenang akan menilai apakah rekaman tersebut memenuhi standar bukti sah serta menilai potensi pelanggaran hukum terkait privasi dan hak asasi manusia.
Erin menutup konferensi dengan harapan agar keluarga dapat kembali menjalani kehidupan normal tanpa gangguan media, sambil menegaskan komitmennya untuk melindungi anak‑anaknya dari segala bentuk penyalahgunaan data pribadi.