CEO Danantara Ungkap Butuh Rp2 Triliun untuk Olah 1.000 Ton Sampah per Hari, Serta Investasi Strategis di GoTo dan Konsolidasi BUMN
Berita Pilihan 07 Mei 2026 – Rosan Roeslani, CEO Badan Pengelola Investasi Danantara, mengungkapkan bahwa pemerintah membutuhkan dana sebesar Rp2 triliun untuk dapat mengolah satu ribu ton sampah setiap harinya. Angka tersebut mencakup biaya pembangunan fasilitas pengolahan, pembelian peralatan modern, serta program edukasi masyarakat tentang pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Menurut penjelasan Rosan, investasi tersebut akan dibagi menjadi tiga fase utama: pembangunan instalasi pengolahan mekanik‑biologis, pengadaan unit pengomposan skala besar, dan integrasi teknologi daur ulang berbasis AI. Dengan dukungan dana yang memadai, Danantara menargetkan pengurangan volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sebesar 70 persen dalam lima tahun pertama.
- Fase I (Rp800 miliar): Pembangunan pabrik pengolahan mekanik‑biologis berkapasitas 500 ton per hari di wilayah Jabodetabek.
- Fase II (Rp600 miliar): Pengadaan 10 unit kompos skala industri yang dapat memproses 300 ton organik per hari.
- Fase III (Rp600 miliar): Implementasi sistem daur ulang berbasis AI untuk memisahkan plastik, logam, dan kertas secara otomatis.
Selain fokus pada pengelolaan sampah, Danantara juga memperluas peran investasinya di sektor teknologi. Pada awal tahun 2026, perusahaan tersebut menjadi pemegang saham strategis di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Keputusan ini tidak hanya bersifat finansial, melainkan juga mengandung tujuan sosial: meningkatkan kesejahteraan mitra pengemudi ojek online (ojol) melalui kebijakan korporasi yang lebih pro‑pegawai.
Rosan menjelaskan, kepemilikan saham di GoTo memberikan Danantara “kursi” dalam rapat dewan sehingga dapat mendorong kebijakan seperti penyediaan BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan bagi mitra, serta program Bantuan Hari Raya (BHR) yang lebih besar. Pada kuartal pertama 2026, GoTo mencatat laba bersih sebesar Rp171 miliar, menandakan peralihan dari model “burning cash” ke strategi profitabilitas yang lebih berkelanjutan. Harga saham yang berada di level Rp50 per lembar—dikenal sebagai “gocap”—dipandang oleh Danantara sebagai peluang investasi jangka panjang yang undervalued.
Di samping investasi di GoTo, Danantara juga berperan aktif dalam proses perampingan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dalam pertemuan dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada 6 Mei 2026, CIO Danantara, Dony Oskaria, menyatakan target penyelesaian merger seluruh aset manajemen BUMN akan tercapai pada bulan tersebut. Konsolidasi ini mencakup penggabungan unit manajemen aset, likuidasi 167 perusahaan negara dalam setahun terakhir, serta penataan ulang Danareksa menjadi manajer investasi independen.
Langkah perampingan BUMN diharapkan tidak menimbulkan pemutusan hubungan kerja (PHK) karena fokus utama adalah efisiensi proses bisnis, bukan pemangkasan tenaga kerja. Sebaliknya, perbaikan proses operasional diyakini akan menciptakan perusahaan yang lebih sehat dan memberikan kesejahteraan jangka panjang bagi karyawan.
Sinergi antara tiga pilar utama—pengelolaan sampah, investasi teknologi, dan restrukturisasi BUMN—mencerminkan visi Danantara untuk mendukung agenda pembangunan berkelanjutan Indonesia. Dengan modal Rp2 triliun, Danantara berharap dapat mengurangi beban lingkungan, meningkatkan kesejahteraan pekerja informal, dan memperkuat tata kelola korporasi negara.
Keseluruhan strategi ini juga sejalan dengan target pemerintah untuk menurunkan jumlah BUMN dari lebih seribu entitas menjadi sekitar 200‑300 unit pada akhir 2026, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Jika semua rencana berjalan lancar, Indonesia akan memiliki sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, ekosistem fintech yang lebih inklusif, serta BUMN yang lebih efisien dan transparan.