Kritik Araghchi: Menlu Iran Tuduh Eropa Salah Paham Program Nuklir Damai
Berita Pilihan 04 Mei 2026 – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan kritik Araghchi secara tegas kepada para pemimpin negara Eropa setelah mereka berulang kali mengemukakan klaim yang dianggap keliru mengenai program nuklir Tehran. Dalam pernyataan yang disiarkan lewat jaringan televisi nasional Iran, Press TV, pada Minggu, Araghchi menegaskan bahwa tuduhan tersebut tidak mencerminkan realitas dan menimbulkan ketegangan diplomatik yang tidak perlu.
Pertemuan antara Araghchi dan Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, di Moskow menjadi ajang bagi menlu Iran untuk mengungkapkan rasa kecewanya atas kebijakan Eropa yang dinilai tidak konstruktif. Araghchi menilai sikap Eropa sebagai bentuk bias yang mengabaikan fakta-fakta teknis dan hukum internasional terkait program nuklir Iran, serta menolak untuk berperan dalam mencari solusi damai.
Menurut Araghchi, program nuklir Iran sepenuhnya bersifat damai dan berada di bawah naungan doktrin keamanan nasional serta fatwa tertinggi dari pemimpin spiritual negara tersebut. Ia menegaskan bahwa Iran tidak memiliki niat ataupun program untuk mengembangkan senjata nuklir, melainkan hanya mengejar hak soberan untuk mengembangkan energi nuklir sebagai sumber listrik dan riset ilmiah.
Lebih lanjut, Araghchi menuduh Eropa melakukan bias dengan tidak mengutuk agresi yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran. Ia menuntut agar negara‑negara Eropa menuntut pertanggungjawaban atas dugaan pelanggaran serius hukum internasional yang dilakukan oleh pihak‑pihak tersebut, serta menghentikan upaya mendiskreditkan program nuklir damai Iran.
Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali, menambahkan bahwa sejak lama Iran konsisten menegaskan posisi anti‑senjata nuklir dalam berbagai forum internasional. Jalali mengutip dokumen resmi Iran yang menyatakan bahwa program nuklir didasarkan pada prinsip non‑proliferasi dan sepenuhnya mematuhi perjanjian multilateral yang relevan.
Sementara itu, perwakilan Uni Eropa belum memberikan respons resmi yang mendetail, namun beberapa pejabat menyatakan keprihatinan atas ketegangan yang meningkat. Mereka menekankan pentingnya dialog berkelanjutan dan menolak segala bentuk eskalasi yang dapat mengganggu stabilitas kawasan.
Perdebatan ini menambah kompleksitas hubungan internasional terkait perjanjian nuklir Iran, khususnya Kesepakatan Komprehensif tentang Program Nuklir Iran (JCPOA). Kritik Araghchi dapat memengaruhi proses negosiasi kembali, mengingat Eropa memegang peran kunci dalam memediasi antara Tehran dan Washington.
Secara keseluruhan, menlu Iran menegaskan kembali komitmennya untuk melanjutkan program nuklir damai sekaligus menuntut keadilan dan pengakuan internasional. Ia mengajak negara‑negara Eropa untuk berperan lebih konstruktif, menghindari retorika yang menimbulkan prasangka, dan bersama‑sama menjaga perdamaian serta stabilitas regional.