Givina Lukita Ungkap Kejutan Adegan Tampar dengan Ratu Sofya di ‘The Bell: Panggilan untuk Mati’
Berita Pilihan 30 April 2026 – Jakarta, 29 April 2026 – Film terbaru sutradara Jay Sukmo, The Bell: Panggilan untuk Mati, kembali menjadi perbincangan hangat setelah seorang aktris muda, Givina Lukita Dewi, mengungkapkan pengalaman tak terlupakan saat merekam adegan tabrakan fisik dengan rekan aktris Ratu Sofya. Kedua pemeran tersebut berperan sebagai Saidah dan Airin, dua karakter yang berseteru dalam alur cerita yang penuh ketegangan.
Givina, yang memerankan Saidah, seorang perempuan kuat bertekad melindungi orang di sekitarnya, menjelaskan bahwa proses syuting berjalan lancar hingga tiba pada momen kritis di mana karakter mereka harus terlibat dalam pertengkaran fisik. “Scene tabok‑tabokan itu benar‑benar membekas bagi saya,” ujar Givina dalam sebuah wawancara eksklusif di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, pada Senin (27/4/2026). “Awalnya kami sudah merencanakan gerakan ringan, namun Ratu Sofya menampar saya dengan cukup keras sehingga reaksi spontan muncul. Saya terkejut, lalu langsung membalas dengan cara yang sama. Setelah selesai, kami berdua saling meminta maaf dan tertawa bersama,” tambahnya.
Menurut Givina, intensitas adegan tersebut tidak hanya sekadar aksi koreografi, melainkan mencerminkan kedalaman emosi karakter. Ia menambahkan bahwa kemiripan antara kehidupan nyata para pemeran dengan peran yang mereka mainkan membuat adegan itu terasa lebih otentik. “Kami berdua merasakan tekanan yang sama seperti karakter kami, sehingga ketika tamparan terjadi, kami benar‑benar merasakannya,” katanya.
Ratu Sofya, yang memerankan Airin, juga mengakui bahwa adegan tersebut menantang namun memberikan kepuasan tersendiri. Ia menyatakan bahwa kolaborasi dengan Givina menghasilkan chemistry yang kuat di layar, sehingga penonton dapat merasakan konflik yang nyata. “Kami ingin penonton merasakan ketegangan yang sama dengan apa yang kami rasakan di lokasi,” ungkap Ratu.
Film The Bell sendiri mengusung tema misteri dan thriller psikologis, mengisahkan tentang panggilan misterius yang memaksa para karakternya menghadapi keputusan hidup‑mati. Selain Givina dan Ratu, film ini juga menampilkan aktor Shalom Razade, yang berperan sebagai tokoh pendukung penting. Sutradara Jay Sukmo menekankan pentingnya realisme dalam adegan aksi, sehingga para pemeran dilatih secara intensif sebelum melakukan adegan fisik.
Produser film menambahkan bahwa adegan tamparan antara Givina dan Ratu Sofya dipilih karena dapat memperkuat alur cerita serta menambah elemen kejutan bagi penonton. “Kami tidak ingin sekadar menampilkan adegan aksi yang terkesan palsu. Kami ingin setiap sentuhan, setiap pukulan, terasa memiliki beban emosional yang kuat,” ujar produser dalam konferensi pers.
Reaksi penonton setelah menonton trailer resmi film ini menunjukkan antusiasme tinggi, terutama terhadap adegan yang diakui oleh Givina sebagai “momen paling berkesan”. Banyak netizen mengomentari bahwa aksi tamparan tersebut menambah kedalaman karakter dan menimbulkan rasa penasaran akan kelanjutan konflik di film.
Para kritikus film juga menilai bahwa keberanian sutradara dalam menampilkan aksi fisik yang autentik memberikan nilai tambah pada produksi lokal. Salah satu kritikus menulis, “Adegan tabok‑tabokan yang dihadirkan secara realistis tidak hanya meningkatkan ketegangan, tetapi juga memperlihatkan dedikasi para aktor dalam menghidupkan peran mereka. Ini menjadi contoh bagus bagaimana sinema Indonesia dapat bersaing dalam kualitas produksi,” kata mereka.
Dengan popularitas yang terus meningkat, The Bell: Panggilan untuk Mati diprediksi akan menjadi salah satu film Indonesia yang paling banyak ditunggu di akhir tahun ini. Jadwal rilis resmi dijadwalkan pada akhir September 2026, dengan pemutaran perdana di beberapa bioskop utama Jakarta.
Kesimpulannya, adegan tampar Givina Lukita dengan Ratu Sofya tidak sekadar menjadi sensasi di media sosial, melainkan menjadi bukti komitmen para pelaku industri film Indonesia dalam menciptakan karya yang menantang batas konvensional. Penonton dapat menantikan sebuah film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyuguhkan pengalaman menonton yang intens dan mendalam.