Berita Pilihan

Ronce melati Syifa Hadju ala Bridgerton Viral, Dijadikan Tren Nasional oleh Didiet Maulana

admin ·
Ronce melati Syifa Hadju ala Bridgerton Viral, Dijadikan Tren Nasional oleh Didiet Maulana

Berita Pilihan 28 April 2026 – Desainer ternama Didiet Maulana mengumumkan keputusan mengejutkan yang memicu gelombang kreativitas di kalangan perajin Indonesia: desain ronce melati Syifa Hadju dapat diduplikasi secara bebas. Keputusan ini muncul setelah penampilan ronce melati pada prosesi siraman menjelang pernikahan Syifa Hadju dan El Rumi menjadi sorotan utama media sosial, mengingat kemiripannya dengan estetika serial “Bridgerton” yang sedang populer.

Ronce melati yang dipakai Syifa Hadju menampilkan kombinasi bunga melati segar, kristal Swarovski, dan rangkaian benang halus yang menyerupai perhiasan tradisional namun berkilau modern. Penataan bunga yang menyerupai mahkota meliputi wajah dan bahu pengantin, memberi kesan elegan sekaligus tetap menghormati warisan budaya Jawa. Foto-foto tersebut tersebar cepat di platform seperti Instagram dan TikTok, menghasilkan jutaan tampilan dalam hitungan jam.

Baca juga:

Didiet Maulana, yang berusia 45 tahun, menyatakan dalam unggahan Instagramnya, “Banyak yang DM aku dan bertanya boleh nggak duplikasi ronce melatinya. Jawabannya adalah boleh banget!” Ia menambahkan bahwa tujuan utama adalah membagikan kreativitas dan memberi peluang ekonomi bagi perajin di berbagai daerah, mulai dari Yogyakarta hingga Bandung.

Langkah ini tidak hanya memecah tradisi eksklusif dalam dunia desain, melainkan juga membuka peluang usaha mikro. Sejumlah perajin melaporkan peningkatan permintaan untuk bahan baku seperti melati segar, kristal, dan kain sutra. Mereka kini dapat menciptakan variasi baru, menyesuaikan warna, panjang, dan tambahan aksesoris sesuai selera konsumen. Beberapa toko online bahkan menambahkan koleksi “Ronce ala Bridgerton” yang menonjolkan nuansa romantis era Regency.

Di samping sorotan mode, tradisi puasa mutih yang dijalani Syifa Hadju menjelang pernikahan turut menarik perhatian publik. Puasa mutih merupakan praktik spiritual dalam adat Jawa yang melarang konsumsi makanan berwarna selain putih. Syifa membagikan video dirinya mengonsumsi nasi, tahu, dan telur rebus tanpa garam, menimbulkan pertanyaan luas tentang aturan, durasi, dan makna ritual tersebut.

Baca juga:

Berikut rangkaian umum pelaksanaan puasa mutih:

  • Durasi: 1 hingga 3 hari sebelum akad nikah.
  • Makanan yang diperbolehkan: nasi putih, tahu putih, putih telur rebus, susu putih, atau roti tawar polos tanpa bumbu.
  • Minuman: hanya air putih.
  • Larangan: penggunaan garam, gula, atau pewarna makanan.
  • Tujuan: penyucian diri, pengendalian nafsu, dan doa untuk kelancaran pernikahan.

Tradisi ini dianggap sebagai bentuk tirakat yang memperkuat kesiapan mental dan spiritual calon pengantin. Meskipun tidak memiliki landasan syariah dalam Islam, puasa mutih tetap dipraktikkan secara luas di kalangan masyarakat Jawa sebagai warisan budaya.

Penggabungan dua fenomena – ronce melati yang terinspirasi Bridgerton dan puasa mutih yang mengedepankan kesucian – menciptakan narasi unik tentang modernitas yang tetap berakar pada tradisi. Media sosial memperlihatkan ribuan komentar netizen yang memuji keberanian Didiet Maulana membuka hak cipta desain, sekaligus mengapresiasi keberanian Syifa Hadju menampilkan tradisi kuno dalam konteks kontemporer.

Baca juga:

Para pakar mode menilai bahwa langkah ini dapat menjadi katalisator bagi industri kreatif Indonesia. Dengan mengizinkan duplikasi, desain dapat beredar lebih cepat, memicu kolaborasi lintas daerah, dan memperluas pasar internasional. Sementara itu, para budayawan menekankan pentingnya menjaga keaslian nilai budaya ketika mengadaptasi elemen tradisional ke dalam tren global.

Secara keseluruhan, fenomena ronce melati Syifa Hadju telah melampaui sekadar penampilan seremonial. Ia menjadi simbol sinergi antara warisan budaya Jawa dan gaya hidup modern, sekaligus memberikan peluang ekonomi bagi komunitas perajin. Jika tren ini terus berkembang, Indonesia berpotensi menjadi pusat inovasi aksesori tradisional yang dipadukan dengan estetika dunia.

Kejadian ini menegaskan bahwa kreativitas yang terbuka dapat menghubungkan generasi, memperkaya kebudayaan, dan membuka pasar baru bagi produk lokal yang berakar kuat pada identitas bangsa.