Berita Pilihan

Nanaimoteuthis: Gurita Raksasa Cretaceous 62 Kaki Mengguncang Dunia Paleontologi

admin ·
Nanaimoteuthis: Gurita Raksasa Cretaceous 62 Kaki Mengguncang Dunia Paleontologi

Berita Pilihan 28 April 2026 – Para ilmuwan telah mengungkap jejak fosil yang menunjukkan keberadaan gurita raksasa berukuran hingga 19 meter, atau setara dengan 62 kaki, yang hidup pada masa Cretaceous sekitar 100 hingga 72 juta tahun yang lalu. Makhluk laut yang dinamai Nanaimoteuthis ini menantang pandangan konvensional bahwa hanya reptil laut berskala besar, seperti mosasaurus, yang mendominasi rantai makanan di samudra purba.

Penelitian terbaru, yang dipublikasikan dalam jurnal Science pada April 2026, mengidentifikasi dua spesies baru dalam genus Nanaimoteuthis: N. jeletzkyi dan N. haggarti. Spesies N. haggarti diperkirakan memiliki panjang total antara 6,6 hingga 18,6 meter, menjadikannya setara dengan beberapa predator vertebrata terbesar pada era itu. Sementara N. jeletzkyi berukuran lebih kecil, namun masih mencapai panjang 2,8 hingga 7,7 meter.

Baca juga:

Fosil yang menjadi bukti utama adalah rahang (beak) yang terbuat dari kitin, bahan keras yang dapat bertahan lama meski jaringan lunak lainnya menghilang. Selama lebih dari dua dekade, fosil rahang ini dianggap langka dan sulit ditemukan. Tim peneliti dari Universitas Hokkaido, Jepang, memanfaatkan teknik inovatif yang disebut “digital fossil mining”. Metode ini melibatkan:

  • Pemotongan konkrit karbonat menjadi irisan tipis.
  • Pengambilan foto beresolusi tinggi pada setiap irisan.
  • Penggunaan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi pola fosil tersembunyi.

Dengan pendekatan tersebut, tim berhasil mengekstrak tiga fosil rahang tiga dimensi yang hampir tidak mungkin ditemukan dengan cara konvensional. Analisis ukuran rahang kemudian dikonversi menjadi perkiraan panjang mantel, mengingat hubungan proporsional yang telah teruji pada gurita berfin modern.

Selain ukuran mengesankan, fosil Nanaimoteuthis menunjukkan pola keausan yang tidak merata pada permukaan rahang. Keausan yang lebih signifikan pada satu sisi mengindikasikan kebiasaan mengunyah dengan satu sisi rahang lebih dominan, mirip dengan perilaku asimetris yang ditemukan pada beberapa hewan modern yang memiliki otak lateral lebih berkembang.

Temuan ini mengubah paradigma mengenai ekosistem laut Cretaceous. Selama bertahun‑tahun, ilmu paleontologi menekankan peran predator vertebrata seperti hiu raksasa dan reptil laut. Namun, keberadaan Nanaimoteuthis menunjukkan bahwa invertebrata juga dapat menempati posisi puncak dalam rantai makanan, memanfaatkan rahang kuat untuk menghancurkan cangkang keras, kerangka tulang, bahkan mungkin memakan bangkai dinosaurus yang tenggelam.

Berbagai ukuran tentakel diperkirakan dapat mencapai 7 hingga 19 meter jika dihitung dari ujung ke ujung. Pada ukuran minimum sekalipun, Nanaimoteuthis masih jauh lebih besar dibandingkan gurita raksasa modern, seperti Enteroctopus dofleini yang memiliki rentang tentakel sekitar 5,5 meter.

Penemuan ini juga menyoroti pentingnya teknologi digital dalam bidang paleontologi. Tanpa bantuan AI dan pencitraan tiga dimensi, sebagian besar fosil rahang ini mungkin tetap tersembunyi dalam batuan. Keberhasilan ini membuka peluang untuk mengeksplorasi lebih banyak jejak invertebrata kuno yang sebelumnya dianggap tidak mungkin dipelajari.

Secara keseluruhan, temuan Nanaimoteuthis menegaskan bahwa lautan pada zaman dinosaurus bukan hanya wilayah predator bertulang belakang, tetapi juga arena persaingan sengit antara makhluk lunak yang telah mengembangkan adaptasi luar biasa untuk bertahan hidup. Penelitian lanjutan diharapkan dapat mengungkap lebih banyak tentang pola makan, perilaku sosial, dan evolusi fisiologis gurita raksasa ini.

Dengan bukti kuat yang kini tersedia, ilmu pengetahuan semakin yakin bahwa Nanaimoteuthis memang pernah menjadi raja laut purba, mengubah cara kita memandang sejarah kehidupan di planet ini.