Berita Pilihan

Spiker Persib vs Arema Pecah Kontroversi: Suporter Bentangkan Spanduk “Shut Up KDM” Kritis pada Gubernur Jawa Barat

admin ·
Spiker Persib vs Arema Pecah Kontroversi: Suporter Bentangkan Spanduk "Shut Up KDM" Kritis pada Gubernur Jawa Barat

Berita Pilihan 26 April 2026 – Pertandingan pekan ke-29 BRI Super League 2025/2026 antara Persib Bandung melawan Arema FC berlangsung di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) pada Jumat, 24 April 2026. Laga yang berakhir imbang 0-0 ini tidak hanya menjadi sorotan karena aksi di atas lapangan, melainkan juga karena munculnya spanduk kontroversial bertuliskan “Shut Up KDM” yang dibentangkan oleh kelompok suporter Persib di tribun utara.

Spanduk berukuran besar terbuat dari kain putih dengan huruf berwarna hitam dan merah yang menonjol, sehingga mudah terlihat oleh ribuan penonton yang hadir. Tulisan tersebut mulai muncul sejak awal babak kedua dan tetap terpajang hingga peluit akhir. Inisial “KDM” merujuk pada Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, yang selama ini dikenal memiliki kedekatan dengan Persib melalui berbagai pernyataan publik dan dukungan simbolis.

Baca juga:

Reaksi dari suporter lain, pemain, dan pengamat pun beragam. Beberapa bobotoh menganggap spanduk itu sebagai bentuk kebebasan berekspresi dan kritik terhadap politisi yang dianggap memanfaatkan popularitas klub untuk kepentingan pribadi. Sementara itu, pendukung Dedi Mulyadi menilai tindakan tersebut tidak pantas dan mengganggu semangat sportivitas.

  • Bobotoh: Menyatakan bahwa banner adalah protes atas dugaan penggunaan nama Persib untuk mencari panggung politik, khususnya setelah gubernur mengunggah foto bantuan dana Rp1 miliar dari Ara Sirait untuk Persib menjelang laga melawan Dewa United.
  • Pengamat politik: Arland Sidha, pengamat dari Universitas Jenderal Achmad Yani, menjelaskan bahwa kehadiran politisi dalam dinamika klub dapat menimbulkan persepsi manipulasi, terutama bila dukungan tersebut dipublikasikan secara luas di media sosial.
  • Pihak klub: Hingga saat ini, Persib belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai spanduk tersebut, sementara Arema FC tetap fokus pada hasil pertandingan.

Meski sorotan utama beralih ke banner, pertandingan itu sendiri menunjukkan performa kedua tim yang cukup seimbang. Persib menampilkan beberapa peluang lewat serangan sayap Maung Bandung, namun belum mampu memecah kebuntuan. Arema FC tampil disiplin, menahan serangan balik cepat dan menjaga pertahanan dengan rapat.

Baca juga:

Hasil imbang ini membuat Persib tetap memimpin klasemen, selisih tiga poin dari Borneo FC, namun tekanan untuk mengamankan poin penuh di sisa lima laga semakin menguat. Di sisi lain, Arema FC mempertahankan posisi di papan tengah dan berupaya mengumpulkan poin penting untuk menyeimbangkan musimnya.

Berita mengenai spanduk “Shut Up KDM” menyebar cepat di media sosial, terutama setelah akun @indonesiafootball_fans mengunggah foto dan video aksi suporter. Warganet membagi pendapat; sebagian menilai banner sebagai kritik sah, sementara yang lain menganggapnya sebagai tindakan yang tidak sportif dan dapat memecah belah komunitas suporter.

Baca juga:

Secara keseluruhan, insiden ini menambah dimensi politik dalam dunia sepak bola Indonesia, memperlihatkan betapa eratnya hubungan antara klub, suporter, dan figur publik. Ke depannya, bagaimana Gubernur Dedi Mulyadi dan pihak Persib menanggapi kritik tersebut akan menjadi indikator penting dalam menjaga hubungan yang konstruktif antara dunia politik dan olahraga.

Dengan sisa lima pertandingan, Persib harus memaksimalkan performa di lapangan sambil mengelola dinamika eksternal yang muncul, termasuk persepsi publik terhadap intervensi politik dalam klub. Sementara itu, suporter diharapkan dapat menyalurkan aspirasi mereka melalui saluran yang lebih terstruktur, demi menjaga sportivitas dan semangat kebersamaan di setiap laga.