Berita Pilihan

Kisah Inspiratif Karyawan Difabel di Pabrik HS: Dari Penolakan Hingga Lunasi Utang

admin ·
Kisah Inspiratif Karyawan Difabel di Pabrik HS: Dari Penolakan Hingga Lunasi Utang

Berita Pilihan 25 April 2026 – Shinta, perempuan berusia 34 tahun asal Magelang, Jawa Tengah, merupakan salah satu dari 70 karyawan difabel yang bekerja di pabrik rokok HS di Muntilan, Magelang. Sebagai penyandang tunawicara dan tunarungu, ia selama bertahun‑tahun menghadapi stigma serta penolakan kerja yang berulang‑ulang. Namun, sejak bergabung dengan HS pada April 2024, kehidupannya berubah drastis.

Menurut saksi mata di lapangan produksi, para pekerja difabel mengisi posisi pelinting dan pengepak rokok dengan kecepatan serta ketelitian yang setara dengan rekan non‑difabel. Suasana pabrik yang bising dipenuhi suara mesin, namun di sudut tertentu terdengar bahasa isyarat yang dinamis, menandakan adanya komunikasi inklusif tanpa mengandalkan suara.

Baca juga:

Shinta mengungkapkan, “Dulu sulit sekali mencari kerja. Setiap kali melamar, selalu ditolak karena perusahaan meragukan kemampuan kami hanya karena perbedaan.” Ia sempat membuka usaha batik kecil di rumah, namun pendapatan tidak mencukupi kebutuhan keluarga. Tekanan ekonomi memaksanya mengajukan pinjaman ke bank, menambah beban utang.

Kesempatan tiba ketika HS membuka lowongan khusus tanpa syarat pengalaman. Perusahaan, yang berada di bawah naungan Surya Group Holding Company, menawarkan pelatihan intensif, fasilitas mess khusus, serta jaminan kesejahteraan bagi penyandang disabilitas. Shinta menilai, “Di pabrik ini, kami dihormati dan tidak diperlakukan berbeda. Lingkungan kerja yang inklusif memberi rasa aman.”

Berikut beberapa fasilitas yang disediakan HS untuk karyawan difabel:

Baca juga:
  • Mess khusus yang dilengkapi dengan aksesibilitas penuh.
  • Program pelatihan keterampilan produksi rokok selama tiga bulan.
  • Asuransi kesehatan dan program pensiun yang setara dengan karyawan lainnya.
  • Pengawasan dan pendampingan oleh tim HRD yang terlatih dalam komunikasi isyarat.

Setelah enam bulan bekerja, Shinta berhasil melunasi sebagian besar utangnya. Pendapatan tetap dari pekerjaan di HS memungkinkan ia menabung untuk pendidikan anak serta kebutuhan rumah tangga. “Sekarang saya tidak hanya mampu membayar cicilan, tapi juga memiliki tabungan darurat,” ujarnya dengan senyum.

Keberhasilan Shinta bukan sekadar cerita pribadi. Data internal HS menunjukkan peningkatan produktivitas sebesar 12% setelah integrasi pekerja difabel, serta penurunan tingkat turnover karyawan. Manajemen menegaskan komitmen jangka panjang untuk memperluas program inklusi, termasuk rencana pembangunan fasilitas mess tambahan pada akhir 2026.

Para pengamat sosial menilai, contoh HS dapat menjadi model bagi industri lain dalam mengatasi diskriminasi kerja. Dengan menyediakan kesempatan setara, perusahaan tidak hanya meningkatkan citra, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi yang signifikan.

Baca juga:

Ke depan, Shinta berharap lebih banyak perusahaan mengikuti jejak HS, sehingga penyandang disabilitas dapat menikmati hak yang sama dalam dunia kerja. “Kami ingin menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi kemampuan untuk berkontribusi secara produktif,” tuturnya.