Berita Pilihan

The Devil Wears Prada 2 Guncang Dunia Hiburan: Instalasi Fotobox Gratis, Kontroversi China, dan Rilis Besar di Indonesia

admin ·
The Devil Wears Prada 2 Guncang Dunia Hiburan: Instalasi Fotobox Gratis, Kontroversi China, dan Rilis Besar di Indonesia

Berita Pilihan 23 April 2026 – Film sekuel ikonik “The Devil Wears Prada 2” kembali menorehkan sorotan tajam menjelang penayangan resminya di Indonesia pada 29 April 2026. Tidak hanya menyiapkan cerita yang mengangkat tantangan era digital bagi majalah fashion terkemuka Runway, film ini juga dilengkapi dengan rangkaian acara pemasaran yang mengundang publik, sekaligus menghadapi kritik internasional terkait representasi karakter asal China.

Di Jakarta, 20th Century Studios Indonesia mempersembahkan instalasi “The Devil Wears Prada 2 Runway Experience” di Plaza Indonesia, lantai 1 dekat lobi timur. Pengunjung dapat masuk tanpa tiket dan memanfaatkan Runway Signature Shot Photo Booth yang meniru set kantor majalah Runway. Set instalasi terdiri dari tiga zona utama: kaca berhiaskan sepatu hak tinggi merah khas film, meja resepsionis kantor Runway, serta replika meja kerja Miranda Priestly lengkap dengan tas belanja ekstra besar berlogo film.

Baca juga:

Fitur utama fotobox meliputi:

  • Setiap sesi foto memberi tiga hasil gambar.
  • Pengunjung memiliki 90 detik untuk memilih template digital melalui perangkat yang disediakan staf.
  • Hasil foto dapat diakses dalam format digital melalui pemindaian QR code tanpa biaya.
  • Penjagaannya memberi cetakan foto fisik bagi pemegang tiket bioskop “The Devil Wears Prada 2” atau anggota Pl One, selama persediaan masih ada.

Instalasi ini beroperasi dari 23 April hingga 15 Mei 2026, selama jam operasional mal, dan menjadi spot Instagramable yang ramai dikunjungi para penggemar fashion serta pencinta film.

Sementara itu, di belahan dunia lain, film ini menimbulkan gelombang protes di China. Karakter pendukung bernama Jin Chao, diperankan aktris keturunan China‑Amerika Helen J. Shen, menuai kecaman karena dianggap mengandung stereotip rasis. Nama “Jin Chao” dianggap menyerupai istilah penghinaan “Ching Chong” yang secara historis digunakan untuk mengejek bahasa dan budaya Asia. Penampilan karakter dengan kacamata, busana sederhana, serta tingkah laku canggung dipandang memperkuat citra negatif terhadap orang Asia berpendidikan tinggi namun kurang gaya.

Baca juga:

Seruan boikot film tersebut menyebar di platform media sosial China setelah cuplikan video resmi yang dipublikasikan 20th Century Studios di YouTube menampilkan adegan-adegan tersebut. Netizen menilai bahwa film, yang berencana merambah pasar China dengan jadwal penayangan pada 1 Mei, justru menyinggung sensivitas masyarakat setempat. Pihak studio belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai penyesuaian konten, namun kontroversi ini menambah dinamika promosi global film.

Dari sisi produksi, “The Devil Wears Prada 2” kembali menampilkan kembali tokoh ikonik Andy Sachs (Anne Hathaway) dan Miranda Priestly (Meryl Streep). Disutradarai oleh David Frankel, film mengangkat konflik utama: Miranda berjuang menjaga relevansi majalah Runway di tengah pergeseran media ke platform digital, sementara Andy kembali ke dunia majalah untuk membantu mengatasi krisis tersebut. Karakter pendukung seperti Nigel (Stanley Tucci) dan Emily Charlton (Emily Blunt) juga kembali muncul, dengan Emily kini menjadi eksekutif berpengaruh di industri mode.

David Frankel menyatakan bahwa proses penulisan naskah terhambat selama hampir dua dekade karena belum ditemukan konsep yang kuat. Ia menekankan bahwa perubahan signifikan dalam lanskap mode dan jurnalisme menjadi titik tolak untuk mengembangkan cerita yang relevan. “Kami tidak ingin memaksakan produksi tanpa ide yang tepat,” ujarnya dalam wawancara.

Baca juga:

Premier London film ini juga mendapat sorotan fashion, dengan para pemeran utama tampil dalam busana haute couture yang mencuri perhatian media internasional. Penampilan mereka menegaskan kembali peran film ini sebagai jembatan antara dunia mode dan sinema.

Secara keseluruhan, “The Devil Wears Prada 2” menawarkan kombinasi antara nostalgia, kritik sosial, dan strategi pemasaran interaktif yang memanfaatkan lokasi premium serta teknologi digital. Namun, keberhasilan film ini di pasar global masih dipertaruhkan oleh respons publik terhadap representasi budaya yang sensitif.

Dengan rilis bioskop yang dijadwalkan pada akhir April, film ini siap menjadi perbincangan hangat baik di kalangan penikmat fashion maupun aktivis budaya, menandai kembali era baru bagi saga Runway yang telah menginspirasi generasi selama dua dekade.