Swasembada Pangan Terbukti: Bulog Kehabisan Gudang, Dony Oskaria Ungkap Keberhasilan Presiden Prabowo
Berita Pilihan 23 April 2026 – Jakarta, 23 April 2026 – Kepala Badan Pengatur Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria menegaskan bahwa swasembada pangan bukan sekadar wacana, melainkan bukti nyata yang kini dirasakan di lapangan. Ia menyoroti lonjakan produksi beras nasional yang sampai-sampai Badan Urusan Logistik (Bulog) harus menambah kapasitas penyimpanan bahkan menyewa gudang tambahan karena kekurangan ruang.
“Banyak yang menyatakan bahwa swasembada itu bohong. Yang mengatakan bohong mungkin halusinasi. Bulog itu kan ada di tempat saya, dan barangnya benar ada,” ujar Dony dalam sebuah acara resmi di Jakarta. Ia menambahkan, pemerintah harus meng-injeksi dana sebesar Rp 39 triliun ke Bulog untuk membeli hasil panen petani, menegaskan komitmen kuat pemerintah dalam mengamankan pasokan pangan.
Menurut Dony, peningkatan produksi beras tercapai lewat sinergi antara kementerian terkait, BUMN sektor pangan, dan kebijakan strategis yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Program-program utama yang dijalankan meliputi:
- Pencetakan lahan pertanian baru di berbagai provinsi, khususnya di wilayah yang sebelumnya belum optimal untuk penanaman padi.
- Perbaikan jaringan irigasi dengan modernisasi kanal dan pompa air, sehingga meningkatkan efisiensi penggunaan air.
- Penurunan harga pupuk melalui model bisnis baru dan distribusi yang lebih merata, membantu petani mengurangi biaya produksi.
- Pembatasan alih fungsi lahan pertanian menjadi non‑pertanian, menjaga keberlanjutan lahan produktif.
Langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk menjamin ketersediaan pangan serta melindungi generasi mendatang dari potensi krisis pangan. Dony menekankan bahwa ketahanan pangan menjadi pilar utama dalam transformasi ekonomi nasional, beralih dari pertumbuhan semu ke pertumbuhan yang fundamental dan merata.
Ia menuturkan, “Keyakinan kita bahwa sebuah negara yang berdaulat adalah negara yang memiliki kemampuan untuk berdiri sendiri, terutama di bidang pangan,” menegaskan pentingnya swasembada pangan dalam memperkuat kedaulatan bangsa. Dony juga menegaskan bahwa semua kebijakan yang diambil memiliki dasar pemikiran yang jelas, sehingga masyarakat dapat memahami tujuan jangka panjangnya.
Penguatan peran BUMN, khususnya Bulog, menjadi contoh konkret dalam implementasi kebijakan ini. Bulog kini tengah membangun fasilitas penyimpanan baru dan memperluas jaringan distribusi untuk memastikan beras dapat sampai ke seluruh wilayah Indonesia dengan cepat dan tepat waktu. Kekurangan gudang yang dihadapi saat ini justru menjadi indikasi positif bahwa produksi beras melebihi kapasitas penyimpanan yang tersedia, menandakan keberhasilan program swasembada pangan.
Selain itu, pemerintah juga melakukan langkah-langkah pendukung lainnya, antara lain:
- Pengembangan teknologi pertanian berbasis digital untuk meningkatkan hasil panen.
- Peningkatan akses kredit bagi petani kecil melalui lembaga keuangan mikro.
- Penerapan standar kualitas beras yang ketat untuk menjamin mutu produk dalam negeri.
Dony menutup dengan harapan bahwa sinergi antara pemerintah, BUMN, dan petani akan terus memperkuat ketahanan pangan Indonesia. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk mendukung program ini demi kesejahteraan bersama dan menjadikan Indonesia sebagai negara yang mandiri dalam hal pangan.